ADVERTISEMENT

3 Kelakuan Bos yang Suka Bikin Kesal, Termasuk Trik Menghadapinya

Almadinah Putri Brilian - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 11:25 WIB
Ilustrasi rencana kerja marketing.
Ilustrasi Kerja/Foto: Headway/Unsplash
Jakarta -

Perilaku bos yang buruk dapat menyulitkan karyawannya dalam bekerja. Namun, beberapa perilaku bos yang tidak disukai oleh karyawan terkadang memiliki hal positif bagi karyawan.

Chairman Asosiasi Praktisi dan Profesional SDM Future HR, Audi Lumbantoruan mengatakan bahwa sebenarnya perilaku bos yang tidak disukai karyawan ada 2, yaitu positif dan negatif. Untuk yang positif, maksudnya perilaku yang tidak disukai oleh karyawan padahal bagus untuk karyawan itu.

Contohnya memberikan tugas yang lebih banyak dalam konteks untuk membangun supaya karyawan itu bisa beradaptasi dengan tantangan pekerjaan yang lebih besar.

"Tapi niat bosnya ini bukan yang buruk ya, tapi lebih untuk membantu karyawannya ini siap mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang nantinya membantu dia untuk bisa naik dan bertumbuh dan berkembang," Ucap Audi kepada detikcom saat dihubungi pada hari Kamis (22/9/2022).

Untuk perilaku bos yang tidak disukai karyawan yang negatif, Audi menyebutkan bahwa niat bosnya ini lebih mementingkan pekerjaan si bosnya dan menyusahkan karyawannya. ia juga memberikan beberapa contoh, di antaranya:

1. Tidak mempunyai contoh leadership yang baik

Artinya, bos ini cenderung mementingkan diri mereka sendiri dan kepentingannya, bukan timnya. Mereka juga berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh bawahannya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, bukan bawahannya.

2. Tidak memiliki komunikasi yang baik

Terkadang, bos ini sudah terdesak oleh waktu, kondisi, dan kesempatan sehingga ia meminta karyawannya membantu pekerjaannya. Namun, karyawan ini tidak mendapatkan brief yang jelas tentang apa yang harus dilakukan.

Ketika melihat hasil kerja karyawannya kurang maksimal, ia merasa tidak puas dan marah-marah ke karyawannya. Sementara karyawannya merasa tidak dibrief dengan jelas, tidak dibekali dengan persiapan, dan merasa tidak diperlakukan dengan baik. Hal ini nantinya bisa jadi bahaya karena menimbulkan kesalahpahaman.

3. Tidak mampu mengerjakan perannya sebagai atasan

Bos ini masih melihat pola-pola pekerjaan waktu dia belum menjadi atasan. Misalnya, dulu dia sering menghabiskan waktu untuk banyak mengobrol. Hal itu terbawa sampai dia mmenjadi bos. Padahal kalau jadi bos, seharusnya bisa lebih bijak menggunakan waktu dan mengatur delegasi kepada tim supaya pekerjaannya terselesaikan.

Pola-pola seperti ini sebenarnya terjadi karena pada saat ia diangkat menjadi bos tidak disertai persiapan yang matang, transisi, dan pelatihan.

Lalu, jika kita memiliki atasan yang perilakunya tidak kita sukai, apa yang harus kita lakukan?

Audi, memberikan beberapa tips untuk menghadapi atasan yang kurang disukai karyawan, yaitu:

1. Bersabar

Mau tidak mau, kita harus menerima bahwa kondisi bos kita yang penuh kekurangan.

2. Menjadi rekan yang baik untuk bos kita

Mungkin saja, bos kita tidak memahami bahwa dia melakukan kesalahan. Maka dari itu, kita sebagai karyawan jangan langsung membensci atau malah memusuhi bos kita sendiri. Menurut Audi, salah satu cara yang efektif yaitu mengajak bos berdiskusi.

"Jadi tipsnya, untuk mengajak atasannya berdiskusi atau mengundang atasannya untuk memberikan ide-ide/masukkan (feedback). Biasanya itu akan memancing atasannya untuk mengerti apa yang dilakukan. Jadi jangan langsung memojokkan atasan kita. Bos juga perlu feedback, bos kan juga manusia, penuh kekurangan, punya emosi, yang mungkin jika mendapat pressure dari atasannya lagi, mentalnya belum tentu kuat seperti kita karyawannya," ujar Audi.

3. Aktif melihat pekerjaan yang dilakukan idealnya seperti apa

Jika bicara tentang ideal, maka kita sebagai karyawan tetap harus meminta feedback kepada atasan terlepas dari segala macam perilakunya yang kurang kita sukai.

Menurut Audi, tidak ada salahnya untuk berdiskusi dengan atasannya bos kita dalam konteks untuk bertumbuh dan berkembang.

"Perusahaan yang baik malah membuka peluang itu. Makanya ada sesi 1 on 1 antara kita dengan bos kita dan kita dengan bosnya bos kita. Itu di organisasi yang baik," ucap Audi.

4. Mampu melihat bahwa bos kita sebenarnya sedang berjuang atau sedang mengalami kendala
Meski dianggap bukan solusi yang terbaik, Audi mengungkapkan bahwa apapun yang diminta oleh atasan kita dalam konteks sedang mengalami masalah atau kendala, kita dapat menjadi rekan kerja yang mampu memberikan solusi.

5. Mendoakan bos kita supaya pekerjaannya lebih baik

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT