Siasat WNI Bertahan dari Krisis Inggris: Jadi Pelayan hingga Cari Makanan 'Sisa'

ADVERTISEMENT

Siasat WNI Bertahan dari Krisis Inggris: Jadi Pelayan hingga Cari Makanan 'Sisa'

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 25 Sep 2022 17:30 WIB
Krisis BBM tengah melanda Inggris. Kondisi itu membuat antrean kendaraan terjadi di SPBU yang masih memiliki stok BBM.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang menjalani pendidikan beasiswa di Inggris bercerita cara bertahan hidup di tengah kota yang apa-apa biayanya serba mahal. Saat ini Inggris sedang mengalami lonjakan inflasi akibat pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina.

WNI yang tinggal di Kota Leeds, Eva (35) mengatakan harus menghemat pengeluaran untuk makan, hingga jalan-jalan atau hiburan. Maklum, sebagai penerima beasiswa pemasukan utamanya adalah berasal dari uang beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

"Strategi untuk bertahan hidupnya sama seperti di Indonesia, bagaimana kalau kita merantau kita menghemat pengeluaran untuk makan, konsumsi seperti pakaian atau hiburan, atau soal barang-barang tersier lainnya," kata Eva saat dihubungi detikcom, Minggu (25/9/2022).

Selain itu, dirinya juga harus pintar-pintar hemat energi yang saat ini tagihannya semakin mahal. Eva menyebut beberapa mahasiswa Indonesia di Inggris saat ini lebih memilih belajar di kampus daripada tempat kost atau apartemen.

"Karena untuk mengurangi biaya listrik dan pemanas ruangan. Selain itu di kampus kan bisa lebih terkonsentrasi, kalau di rumah tidur terus ntar," tambahnya.

Biaya hidup di Inggris yang mahal juga membuatnya harus mencari diskonan bahan sembako untuk dimasak. Di Inggris, kata Eva, semakin hari gelap maka harga sembako di minimarket bisa jadi setengah harga karena kondisinya kurang layak.

"Di Inggris itu setiap jam-jam tertentu biasanya sore menjelang malam atau siang menjelang sore, beberapa bahan makanan di minimarket itu mengalami penurunan harga karena dianggap sudah kurang layak. Tapi kalau dibawa ke standar Indonesia tuh masih bagus banget seperti daging ayam, buah-buahan, sandwich itu bisa setengah harga dari harga aslinya," ucapnya.

Eva juga bercerita bahwa penerima beasiswa yang membawa pasangan memilih bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran untuk membantu menutupi pengeluaran bulanan. Kalau penerima beasiswa yang single seperti dirinya, hanya diperbolehkan bekerja di bidang akademik seperti menjadi asisten peneliti atau asisten dosen di kampus.

"Penerima beasiswa yang membawa pasangan, pasangannya ini bekerja untuk membantu menutupi pengeluaran bulanan. Bekerjanya itu bisa sebagai penggoreng ayam di restoran fast food, pelayan toko dan sebagainya, itu lumayan membantu. Jadi sementara pasangannya belajar di kampus," ucapnya.

WNI lainnya yang tinggal di London, Dyah (39) menambahkan siasat berhemat versi dirinya sebagai penerima beasiswa yang membawa keluarga. Salah satunya adalah mengurangi konsumsi energi untuk menekan pengeluaran.

"Saya dan suami selalu mengingatkan anak-anak untuk hemat energi misalnya dengan mematikan lampu jika tidak diperlukan, mencuci seminggu sekali, dan mengurangi penggunaan oven. Saat ini cuaca juga masih cukup memberikan sinar matahari sehingga kami tidak perlu menghidupkan pemanas," bebernya.

Kemudian mengurangi biaya yang tidak terlalu penting seperti jalan-jalan atau membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Dyah dan keluarga punya cara tersendiri untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.

"Untuk menikmati weekend dengan keluarga, kami cukup menikmati London dan pergi ke taman atau tempat-tempat wisata yang gratis. Kami menghindari bepergian yang jauh dan menghabiskan banyak uang. Kami juga berusaha mengurangi jajan di luar rumah," tandasnya.



Simak Video "Lis Truss Pimpin Rapat Kabinet Perdana, Bahas Strategi Atasi Krisis Energi di Inggris"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT