Pertanian Sel dan Ketahanan Pangan Dunia

ADVERTISEMENT

Kolom

Pertanian Sel dan Ketahanan Pangan Dunia

Sri Hardanti - detikFinance
Selasa, 27 Sep 2022 15:18 WIB
ilustrasi stem cell
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Penemuan sumber pangan baru untuk menghindari kerawanan pangan dunia, masih terus dilakukan dan dikembangkan. Selain itu, ancaman perubahan iklim, ketersediaan air, tanah, dan polusi di masa yang akan datang tentunya akan mempengaruhi ketahanan pangan di seluruh dunia.

Saat ini, bicara penyediaan pangan tidak hanya mencakup pemenuhan nutrisi saja tetapi sudah berbicara pengadaan pangan yang sehat, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hal ini merupakan salah satu goals UN SustainabledevelopmentGoals (SDGs).

Pertanian sel (Cellular agriculture) hadir untuk membuat perubahan besar, dengan menurunkan kebutuhan input energi dan meningkatkan produktivitas, produk sel dapat menjaga kestabilan stok pangan global bagi populasi dunia yang semakin bertambah.

Pertanian sel telah menjadi tren di dunia, dimulai sejak burger daging sapi hasil kultur daging pertama kali diperkenalkan dan dicicipi oleh masyarakat pada konferensi pers tahun 2013 di London (O'Riordan et al. 2017). Seri konferensi virtual pertama yang berfokus pada pangan masa depan melalui pertanian seluler di seluruh Asia " Agriculture: Asia Summit 2022" telah sukses diselenggarakan pada tanggal 5 Mei 2022 dengan melibatkan banyak pakar, praktisi dan stakeholder di bidang industri pertanian sel.

Fenomena ini mengisyarakatkan bahwa pertanian sel segera terealisasi menjadi sumber pangan masa depan. Pertanian sel dapat didefinisikan secara luas sebagai penerapan bioteknologi dan bidang ilmu terkait lainnya (biologi sintetis, biologi molekuler, rekayasa jaringan) dengan menggunakan sel atau jaringan untuk menghasilkan kembali produk pertanian konvensional tanpa pelibatan hewan dan tumbuhannya sendiri (Roccor 2020).

Sebagian besar produksi kultur sel berfokus pada produk hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, lobster, susu dan telur (Post 2014; Stephens et al. 2018). Saat ini, beberapa startup di dunia mulai memproduksi daging kultur seperti Aleph farms di Rehovot-Israel yang memproduksi steak, sosis dan burger; Finless foods di San Farnsisco, USA memproduksi daging ikan tuna sirip biru; Integri culture di Tokyo Jepang memproduksi Foie gras dari sel hati ayam,Shiok meats di Singapura yang memproduksi udang, kepiting dan lobster (Valoppi et al. 2022).

Kebutuhan akan daging semakin meningkat seiiring dengan pertambahan waktu dan jumlah populasi manusia di dunia. Kultur daging adalah teknologi yang menjanjikan sebagai sumber protein hewani.

Inovasi ini berpotensi merevolusi industri daging, dengan implikasi yang luas untuk lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan hewan. Sel diambil dari hewan hidup kemudian ditumbuhkan atau dikulturkan di laboratorium disebut cell line, selanjutnya sampel cell line dimasukan ke dalam bioreaktor yang mengandung medium yang dibutuhkan oleh sel untuk tumbuh, sel di dalam bioreaktor tumbuh dan membelah terus menerus secara eksponensial sehingga membentuk biomassa selanjutnya dilakukan pemanenan.

Biomasa daging kultur dapat dibentuk menjadi daging burger sampai sosis. Penggunaan teknologi seperti 3D printing dan edible scaffolds e depan memungkinkan untuk menghasilkan potongan daging tertentu seperti paha ayam dan T-bone steak.

Kultur daging memungkinkan produk yang berasal dari hewan atau tumbuhan bisa diproduksi di laboratorium (In Vitro) tidak menggunakan lahan luas yang biasanya digunakan untuk budidaya tanaman atau lahan peternakan, tanpa memerlukan perkawinan, pemeliharaan, serta penyembelihan.

Lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "BMKG Beberkan Strategi Hadapi Perubahan Iklim, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT