Pernah Kaya Raya Sejagat, Negara Ini Kini Melarat Karena Boros

ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Pernah Kaya Raya Sejagat, Negara Ini Kini Melarat Karena Boros

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 15 Okt 2022 12:45 WIB
Bendera negara Nauru
Foto: (Getty Images/iStockphoto/ffikretow)
Jakarta -

Republik Nauru adalah negara kecil yang pernah berjaya karena kekayaan alamnya. Tapi kini, negara tersebut menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

Nauru adalah negara kepulauan yang berada di Barat Daya Samudera Pasifik. Bahkan saking kecilnya negara ini tidak memiliki Ibu Kota.

Dikutip dari detikTravel, Nauru terletak hanya 25 mil selatan khatulistiwa, negara tersebut merupakan pulau karang terangkat di barat daya Samudra Pasifik. Luas wilayahnya hanya sekitar 12 mil persegi (21 km persegi) dan memiliki populasi sekitar 12.000 hingga 13.000 orang.

Namun jangan salah, Meski kecil, negara ini pernah berpredikat negara terkaya sejagat. Kecil-kecil cabe rawit, mungkin itu ungkapan yang pas untuk disematkan pada Nauru.

Pada 1970-an Nauru adalah negara kaya yang menarik keuntungan dari cadangan fosfat. Endapan fosfat ditemukan hampir di seluruh wilayah Nauru pada saat itu.

Barang tambang ini adalah komponen kunci industri pupuk, yang sangat membantu perekonomian negara tersebut. Bahkan pada tahun 1975, Nauru memiliki penghasilan sekitar US$ 2,5 miliar.

Berkat itu pemerintah dan masyarakat Nauru sempat merasakan hidup mewah dan terlalu boros terhadap anggaran yang dimiliki. Saking kayanya, Nauru tidak membebankan pajak pada penduduknya. Biaya perumahan yang disediakan pemerintah hanya dihargai US$ 5 sebulan.

Nauru juga menyediakan semua layanan kesehatan secara gratis. Kalau ada warga yang membutuhkan perawatan medis khusus, pemerintah Nauru akan menerbangkannya ke Australia. Pelajar yang berprestasi juga akan dibiayai untuk sekolah di Australia.

Tambang fosfat yang dikelola pemerintah luasnya minta ampun. Saking luasnya, pemukiman penduduk semakin tersingkir karena tambang itu. Area tambang yang terbuka membuat daratan menjadi bolong-bolong hingga berbentuk gerigi tajam.

Akibat penambangan secara besar-besaran, Nauru harus merasakan efek oven. Efek ini oven menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan di Nauru.

Pemerintah Nauru memutar otak untuk menghasilkan pendapatan yang terhenti dari pertambangan fosfat. Pada tahun 1992, Nauru berinvestasi, namun malah ditipu dan merugi sampai US$ 30 juta.

Setahun setelah penipuan investasi, salah satu penasihat keuangan dari pemerintah sebelumnya menawarkan sebuah investasi dalam bentuk pertunjukan. Mantan penasihat tersebut adalah kru dari sebuah band pop Inggris.

Sang mantan penasihat meyakinkan pemerintah untuk membiayai sebuah pertunjukan musikal yang berjudul Leonardo the Musical: A Portrait of Love.

Pertunjukan tersebut debut di London pada bulan Juni 1993. Namun pertunjukan tersebut dikritik karena bertele-tele dan membosankan. Bahkan, para penonton pulang sebelum pertunjukan selesai.

Jadwal pertunjukan juga dibatalkan beberapa minggu kemudian. Sial tak bisa ditolak untung tak bisa diraih, Nauru harus kehilangan sekitar US$ 7 juta dalam investasi tersebut.

Bagai jatuh tertimpa tangga, Nauru lagi-lagi kena sial. Penasihat keuangan lainnya kedapatan menggelapkan dana sekitar US$ 60 juta. Kini Nauru sangat bergantung pada bantuan negara lain. Sebagai negara tetangga, Australia memanfaatkannya dengan baik.

Kini, Nauru menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi sebelum masuk ke Australia. Dari tugas itu, Nauru memiliki pendapatan sekitar US$ 10 juta selama beberapa tahun terakhir.

Kini, Nauru menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Tapi, bukan berarti Nauru tak punya apa-apa. Setidaknya Nauru mempunyai potensi pariwisata yang juara. Pasir pantainya putih, terumbu karangnya sangat indah.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT