Bos BCA Bicara Ancaman Resesi Global, RI Aman Nggak?

ADVERTISEMENT

Bos BCA Bicara Ancaman Resesi Global, RI Aman Nggak?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 20 Okt 2022 17:45 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menggelar seminar soal tantangan dan strategi digital branding. Hal itu disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.
Direktur Utama PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja/Foto: Istimewa
Jakarta -

Direktur Utama PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja sudah meramalkan jika resesi global kemungkinan bakal terjadi pada 2023. Menurutnya, kondisi perekonomian dunia pada tahun depan akan sangat memprihatinkan.

"Resesi global memang sudah kita perkirakan ya memang kita akan merasakan prihatin tahun depan. Perkiraannya inflasi akan lumayan tinggi dan sejauh ini kita lihat kurs mulai melemah meskipun jauh lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain," kata Jahja dalam konferensi pers virtual, Kamis (20/10/2022).

Dirinya mengaku tidak mengetahui apa lagi yang akan terjadi. Kondisi ini menurutnya akan membuat biaya produksi meningkat dan berpengaruh ke masyarakat.

"Dari segi buying power saya rasa belum terlalu besar untuk per individu yang selama ini bekerja. Nah itu menyebabkan pabrik-pabrik atau produsen tidak bisa semena-mena menaikkan harga begitu mudah. Apakah ada yang sedikit-sedikit menaikkan, atau belum berani menaikkan, atau me-resize packaging menjadi lebih kecil untuk mengakali cost," bebernya.

Di sisi lain, ada potensi cukup baik dari permintaan produksi CPO dan perusahaan tambang yang meningkat di daerah Kalimantan dan Sulawesi. Hal ini bisa ada penambahan tenaga kerja dan di daerah sekitar saja dinilai tidak cukup untuk memenuhinya.

"Jadi perlu tenaga kerja dari jawa bisa ditambahkan ke sana dan income yang didapat akan dispent bisa di tempat mereka bekerja atau ada saving sebagian hasil gaji dikirim ke rumah," imbuhnya.

Dengan adanya penambahan kerja ini, dinilai bisa menimbulkan adanya konsumsi tambahan. Tinggal para pengusaha diminta pandai-pandai menyiasati produk apa saja yang laku dan dibutuhkan masyarakat untuk dijual.

"Kalau ini bisa terjadi mudah-mudahan tidak terjadi resesi di Indonesia, tapi kita harus tetap mawas diri. Likuiditas para pengusaha juga tetap harus dijaga," bebernya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT