PM Inggris Liz Truss Mundur, Sri Mulyani Bicara Ekonomi Berimbas ke Politik

ADVERTISEMENT

PM Inggris Liz Truss Mundur, Sri Mulyani Bicara Ekonomi Berimbas ke Politik

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 22 Okt 2022 14:30 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani didampingi anggota dewan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/05/2021).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyinggung soal kekacauan ekonomi dan politik di Inggris hingga membuat Perdana Menteri Inggris Liz Truss mundur. Menurut Sri Mulyani saat ini masalah ekonomi dan keuangan di Inggris telah berimbas ke politik.

"Kita semuanya mengikuti politik di Inggris di mana dari mulai Menteri Keuangan diganti, sekarang Perdana Menteri turun,ini menggambarkan turmoil yang terjadi di sisi ekonomi dan keuangan telah menimbulkan juga imbasnya kepada politik," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA Oktober 2022, dikutip Sabtu (22/10/2022).

Saat ini saja, inflasi di Inggris telah meningkat lebih tinggi hingga 10,1%. Sri Mulyani mengatakan level itu disebut akan bertahan tinggi hingga beberapa saat.

"Inflasi yaitu kenaikan harga pada komoditas berbagai negara, misalnya Inggris baru saja dipublikasi inflasinya menembus di atas 10%, yaitu 10,1%, dan ini akan bertahan di level tinggi untuk beberapa saat," lanjutnya.

Menurut Sri Mulyani, permasalahan global saat ini memang sudah beralih dari pandemi ke risiko bidang ekonomi dan keuangan. Saat ini harga-harga komoditas di tingkat global juga sudah mengalami kenaikan.

Sebagai informasi, PM Inggris Lizz Truss telah mengundurkan diri beberapa hari lalu. Padahal Liz Truss baru menjabat dalam jangka waktu yang pendek. Truss mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri hanya enam minggu dari masa jabatan yang membawa bencana.

Dikutip dari CNBC, Kamis (20/10/2022), pengunduran diri tersebut menyusul kegagalan pemotongan pajak yang mengguncang pasar keuangan, serta menimbulkan perlawanan di dalam Partai Konservatif-nya sendiri.

(ada/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT