Krisis Inggris Makin Horor, Jutaan Warga Sengaja Nggak Makan Biar Hemat

ADVERTISEMENT

Krisis Inggris Makin Horor, Jutaan Warga Sengaja Nggak Makan Biar Hemat

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Sabtu, 22 Okt 2022 22:00 WIB
A homeless man sleeps in his sleeping bag on The Strand in central London on October 1, 2022, as campaigners gather in the city to protest against the cost of living crisis. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP) (Photo by JUSTIN TALLIS/AFP via Getty Images)
Krisis Inggris/Foto: Justin Tallis/AFP/Getty Images
Jakarta -

Inggris masih terus dihantui krisis. Parahnya lagi, kondisi ini membuat jutaan warganya rela tidak makan karena harga pangan yang meroket tajam. Biaya hidup makin tinggi.

Hal ini terungkap setelah data menunjukkan inflasi Inggris kembali melonjak di atas 10% pada bulan September. Munculnya angka tersebut didorong oleh permasalahan ekonomi yang kian menumpuk.

Dilansir melalui NDTV pada Sabtu (22/10/2022), berdasarkan survei yang dilakukan sebuah lembaga swadaya terhadap 3.000 orang, setengah dari rumah tangga Inggris mengurangi jumlah makanannya.

Tidak hanya itu, mereka juga merasa kesulitan untuk memperoleh makanan sehat dibandingkan dengan masa sebelum krisis melanda. Bahkan, hampir 80% di antaranya mengalami kesulitan secara finansial.

"Dampak buruk dari krisis biaya hidup, yang mengkhawatirkan, menyebabkan jutaan orang melewatkan makan atau berjuang untuk menyajikan makanan sehat di atas meja," kata Kepala Kebijakan Pangan Which, Sue Davies.

Lembaga swadaya masyarakat itu juga menilai kebijakan pemerintah Inggris yang menaikkan batas atas harga energi akan membuat jutaan rumah tangga mengalami krisis di musim dingin ini.

"Keputusan pemerintah ini berisiko membuat jutaan rumah tangga di seluruh negeri, bukan hanya yang paling rentan secara finansial, jatuh ke dalam kemiskinan," kata Kepala Kebijakan dan Advokasi Which, Rocio Concha.

Padahal, sejatinya pembatasan harga energi tersebut ditujukan untuk melindungi konsumen dari biaya bahan bakar domestik yang sangat tinggi. Di mana biaya itu telah meroket karena perang Rusia dan Ukraina. Namun, bantuan yang diberikan pemerintah Inggris dinilai tak mencukupi.

Di sisi lain, Inggris juga telah dilanda oleh beberapa aksi mogok buruh di tahun ini. Para pekerja itu memprotes besaran upah mereka yang gagal mengimbangi inflasi tak terkendali.

Indeks harga eceran pun melompat ke 12,6% pada bulan September, dari angka 12,3% pada bulan Agustus. Indeks tersebut merupakan ukuran inflasi yang mencakup pembayaran bunga hipotek serta digunakan oleh serikat pekerja dan pengusaha ketika merundingkan kenaikan upah.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT