Pound Sterling Loyo, Ekonomi Inggris Kian Babak Belur

ADVERTISEMENT

Pound Sterling Loyo, Ekonomi Inggris Kian Babak Belur

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 24 Okt 2022 09:34 WIB
Pound Sterling
Pound sterling/Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Mata uang Inggris, pound sterling tak berdaya terhadap dolar. Kamis lalu, harga pound sterling jatuh ke level US$ 1,11, terutama setelah Perdana Menteri Liz Truss mengundurkan diri.

Sempat naik sedikit pada Jumat lalu sekitar US$ 1,12 terhadap dolar. Mengutip dari BBC, Senin (24/10/2022) namun nilai pound sterling sudah jatuh dari rekor bulan lalu.

Penurunan satu pound sterling saja memang sangat berpengaruh pada ekonomi Inggris. Jika pound sterling melemah terhadap dolar ataupun euro, pengaruhnya kepada importasi sejumlah barang, jasa, hingga makanan.

Biaya yang akan dikeluarkan oleh Inggris akan semakin mahal. Dampaknya harga-harga komoditas yang diimpor tentu akan naik juga di dalam negeri.

Kekhawatiran akan suramnya ekonomi Inggris juga ditandai dengan tingkat konsumsi masyarakat yang menurun, berdasarkan data Kantor Statistik Nasional (ONS).

Penjualan ritel turun lebih dari yang diharapkan bulan lalu, turun 1,4% dan melanjutkan penurunan dari Agustus.

Pound sterling sempat mengalami penguatan sedikit ahli strategi mata uang di Rabobank, Jane Foley mengatakan sebagian besar pergerakan pound didorong oleh reaksi investor terhadap ketidakpastian politik dan ekonomi di Inggris serta data ekonomi negatif.

"Sementara sterling menguat kemarin pada pengunduran diri Truss, saya pikir investor telah menyadari hari ini bahwa itu bukan jaminan bahwa kita akan mendapatkan hasil yang ramah pasar dari kontes kepemimpinan Konservatif," katanya.



Simak Video "Mata Uang Inggris dengan Gambar Raja Charles III Bakal Diterbitkan"
[Gambas:Video 20detik]
(ada/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT