Sampai Kapan Harga Cabai Jeblok?

ADVERTISEMENT

Sampai Kapan Harga Cabai Jeblok?

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 31 Okt 2022 16:57 WIB
Pedagang cabai dan sayur di pasar Gabus, Kecamatan Jatinom, Klaten, Kamis (8/9/2022).
Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Jakarta -

Petani memprediksi harga cabai menurun hingga akhir November ini. Penurunan harga cabai seiring dengan panen raya yang tengah berlangsung, jadi pasokan melimpah di pasaran.

"Harga cabai turun memang prediksi harga rendah ini sampai akhir November, prediksinya ya," kata Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid kepada detikcom, Senin (31/10/2022).

Tetapi, Hamid juga khawatir setelah harga cabai turun hingga November ini, akan terjadi kenaikan pada akhir tahun. Mengingat, cuaca buruk tengah terjadi di sejumlah daerah produksi cabai.

"Yang kita khawatirkan itu juga setelah itu (November). Banyak daerah yang banjir, hujan. Asumsinya nggak sampai (Rp 100.000/kg) tetapi kalau penyakitnya banyak... sekarang kan kalau banjir itu repot, banyak penyakit-penyakit," lanjutnya.

Hamid mengatakan saat ini panen raya cabai tidak panjang, karena pertanian cabai banyak yang sering mati. "Tanah kita ini kan sudah nggak sehat ya, sudah lama juga. Mengandalkan pupuk saja," lanjutnya.

Hamid berharap ada sumbangsi pemerintah untuk membentuk kemitraan dari hulu ke hilir dengan petani cabai. Kemudian diharapkan juga ada pelatihan budidaya yang bagus bagi petani.

"Dilatih petaninya untuk produksi, sekarang ini panen kan nggak panjang. Karena banyaknya penyakit,sekarang kan pertanian petani ini banyak yang cepat mati-mati karena tanah kita ini sudah nggak sehat," lanjutnya.

Ketua Umum DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri juga mengatakan demikian, bahwa penurunan harga cabai akan berdampak buruk pada petani. Menurutnya saat ini biaya produksi petani tengah meningkat karena harga pupuk yang mahal.

"Sekarang yang berat itu di petani, Karena apa? Pupuk mahal, giliran pasokannya banyak kan harga drop. Kita ini kan nggak punya data base pangan yang ketat," jelasnya.

(ada/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT