Ini Profil Pemilik Sriwijaya Air yang Perusahaannya Digugat Pailit

ADVERTISEMENT

Ini Profil Pemilik Sriwijaya Air yang Perusahaannya Digugat Pailit

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2022 16:43 WIB
Miniatur pesawat Sriwijaya Air dan Nam Air
SrIwijaya Air/Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta -

PT Sriwijaya Air saat ini secara resmi tengah dalam status penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara. Hal itu tertuang dalam salah satu putusan pengadilan niaga pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Putusan PKPU sementara itu tertuang dalam surat putusan nomor 247/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Niaga.Jkt.Pst dengan tanggal 31 Oktober 2022. PKPU sementara ini menjadi salah satu langkah dalam gugatan pailit.

Adapun amar putusan salah satunya berbunyi menerima dan mengabulkan permohonan PKPU yang diajukan oleh Pemohon PKPU (SUGIANTO) untuk seluruhnya.

Putusan juga menyatakan memberikan PKPU Sementara selama 45 hari terhitung sejak Putusan aquo diucapkan kepada termohon PKPU yakni PT Sriwijaya Air yang berkedudukan di Jalan Pangeran Jayakarta 68 Blok C Nomor 15-16, Kelurahan Mangga Dua Selatan, Kecamatan Sawah Besar, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, dengan segala akibat hukumnya.

Terlepas dari bagaimana kondisi perusahaan saat ini, diketahui bahwa Sriwijaya Air yang merupakan salah satu maskapai terbesar di Indonesia, dimiliki oleh pengusaha bernama Chandra Lie. Sebelum mengelola maskapai, ia ternyata adalah pengusaha garmen yang sukses.

Berdasarkan catatan detikcom, Chandra Lie lahir di Pangkal Pinang pada 4 April 1965. Sejak kecil, Chandra dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Ia juga semangat menempuh pendidikan hingga hijrah ke Jakarta.

Sempat bercita-cita menjadi guru olahraga dan pengacara, Chandra justru akhirnya terjun ke bisnis garmen. Bisnis itu mulanya ia geluti dengan modal kecil yakni 7 mesin untuk memproduksi pakaian. Ia terus mengembangkan bisnisnya hingga memiliki 150 mesin.

Tak puas menekuni bisnis garmen, Chandra kemudian mulai merambah ke bisnis penerbangan. Awal mula keinginan itu muncul lantaran Chandra kerap mengalami kesulitan pulang kampung dari Jakarta ke Pangkal Pinang. Ia harus naik kapal selama 11 jam dan seringkali juga terhalang ombak besar.

Maka dari itu ia berpikir, ini akan lebih mudah bila terbang menggunakan pesawat. Ia pun akhirnya menyerahkan bisnis garmen itu kepada temannya dan mulai mengelola bisnis penerbangan.

Chandra Lie bersama dengan saudaranya yakni Hendry Lie, Johanes B, dan Andy Halim akhirnya mengajukan izin untuk membentuk maskapai pada tahun 2000. Saat itu, mengajukan izin berbisnis maskapai bukan sesuatu yang sulit.

Ini karena adanya deregulasi penerbangan yang memungkinkan siapapun mendirikan maskapai penerbangan dengan hanya dua atau satu unit pesawat. Hal tersebut diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 10 November 2003, mereka akhirnya diizinkan mengoperasikan maskapai yang diberi nama Sriwijaya Air.

Saat itu, Chandra Lie hanya memiliki satu unit pesawat Boeing 737-200. Pesawat itu melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang dan Pangkal Pinang-Jakarta.

Sriwijaya Air terbilang berani bersaing dengan maskapai-maskapai pendahulunya seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang saat itu sudah lebih dulu dipercaya publik. Maskapai ini menjual tiket Jakarta-Pangkal Pinang seharga Rp 175 ribu.

Perlahan tapi pasti, Sriwijaya Air pun menambah rute yakni Jakarta Palembang, Jakarta-Jambi, dan Jakarta-Pontianak. Sriwijaya Air kemudian menambah armada mereka yakni empat pesawat Boeing 737-200.

Bisnis milik Chandra Lie ini kian berkembang karena dianggap mampu mengisi kekurangan dari maskapai-maskapai saingannya. Misalnya mereka membuka rute-rute baru dan membuka jadwal terbang lebih pagi dari jadwal maskapai lainnya.

Bermula dari hanya 1 pesawat dan 1 rute perjalanan pulang-pergi, saat ini Sriwijaya Air memiliki 48 pesawat Boeing dan melayani 53 rute penerbangan. Selain itu, Chandra Lie juga membuka anak perusahaan baru bernama NAM Air yang melayani penerbangan feeder.

Pada November 2018, Sriwijaya Air dan NAM Air mulai masuk dalam manajemen Garuda Indonesia Group melalui anak perusahaan PT Citilink Indonesia. Namun kerja sama ini tak bertahan lama. Mulai akhir Oktober 2019, kedua grup maskapai itu sudah memilih jalannya masing-masing.

Lihat Video: Dugaan KNKT soal Tak Terekamnya Suara Kapten Sriwijaya Air SJ182 di CVR

[Gambas:Video 20detik]



(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT