Survei BI: Telur Ayam hingga Beras Sumbang Inflasi Minggu Pertama November

ADVERTISEMENT

Survei BI: Telur Ayam hingga Beras Sumbang Inflasi Minggu Pertama November

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 04 Nov 2022 18:36 WIB
Badan Pangan Nasional menggelar bazar telur ayam murah di Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (1/9/2022). Bazar telur murah ini pun diserbu warga.
Ilustrasi Telur Ayam/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu pertama November 2022 diperkirakan inflasi 0,08% (mtm). Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan komoditas utama penyumbang inflasi yaitu telur ayam sebesar 0,02% (mtm).

"Lalu daging ayam ras, beras, minyak goreng, tahu mentah, tomat, tempe, jeruk, dan sawi hijau masing-masing sebesar 0,01% (mtm)," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Jumat (4/11/2022).

Dia menjelaskan, komoditas yang mengalami deflasi pada periode minggu pertama November yaitu cabai merah sebesar -0,07% (mtm), cabai rawit sebesar -0,03% (mtm), dan bawang putih sebesar -0,01% (mtm).

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," ujarnya.

Indikator Rupiah

BI mencatat nilai tukar rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.695 per dolar AS, yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke 7,39%. DXY [1] menguat ke level 112,93, sedangkan yield UST (US Treasury) 10 tahun naik ke level 4,147%.

Pada pagi hari Jumat, 4 November 2022, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.740 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun naik ke level 7,46%. Sedangkan untuk premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun naik ke 139,39 bps per 3 November 2022 dari 130,44 bps per 28 Oktober 2022.

Berdasarkan data transaksi 31 Oktober-3 November 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 0,90 triliun terdiri dari beli neto Rp 0,08 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 0,82 triliun di pasar saham.

Selama tahun 2022, berdasarkan data setelmen sampai dengan 3 November, nonresiden jual neto Rp 176,33 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 78,86 triliun di pasar saham.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT