Bahlil: Kita Akan Masuk Tahun Politik, Bukan Tak Mungkin Antre Jadi Pasien IMF

ADVERTISEMENT

Bahlil: Kita Akan Masuk Tahun Politik, Bukan Tak Mungkin Antre Jadi Pasien IMF

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 10 Nov 2022 12:35 WIB
Menteri Investasi RI Bahlil Lahadalia menghadiri pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Kader Organisasi Tingkat Daerah (Diklatda) HIPMI Jaya di Jakarta.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia punya penilaian berbeda soal proyeksi ekonomi pada 2023. Meski banyak yang menyebut 2023 adalah tahun yang biasa, namun Indonesia diminta tetap waspada.

"Hati-hati, saya sedikit beda pendapat dengan sebagian orang bahwa ekonomi Indonesia akan baik-baik saja. Saya jujur aja, pertumbuhan ekonomi kita 5,72% tapi kita jangan terbuai," kata Bahlil dalam konferensi pers Capaian investasi triwulan III secara virtual, Kamis (10/11/2022).

Pada kuartal IV-2022 Indonesia disebut akan menghadapi tantangan jika kondisi global tak membaik. Bahkan ia memprediksi ekonomi global 2023 tidak akan sebaik 2022.

"2023 saya berani taruhan ekonomi global tidak akan sebaik 2022 kalau tidak mampu memastikan stabilitas. Ekonomi 2023 akan membaik kalau ada jaminan stabilitas, stabilitas politik, keamanan, maupun stabilitas kebijakan yang continue (berkelanjutan)," jelasnya.

Selain itu, banyak negara juga diprediksi mengalami resesi. Sebagian bahkan antre, dan sudah ada yang menjadi pasien International Monetary Fund (IMF). Bahlil pun menyebut Indonesia bisa saja menjadi pasien IMF berikutnya.

"Dan kita ke depan akan masuk tahun politik. Kalau tidak mampu kelola dengan baik, bukan berarti tidak mungkin kita menjadi salah satu bagian yang antre pada fase menjadi pasien (IMF)," ungkapnya.

Menurutnya ada 16 negara yang saat ini menjadi pasien IMF. Sementara 28 negara lainnya disebut sedang antre jadi pasien IMF.

Bahlil menyebut ia sebenarnya tetap optimistis soal tahun depan. Namun, perlu juga bersikap realistis agar tidak terjebak dalam optimisme yang tidak mampu diwujudkan.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT