Canda Bahlil, Ngaku Cuma Kuliah di Kampus yang Nggak Ada di Google

ADVERTISEMENT

KTT G20

Canda Bahlil, Ngaku Cuma Kuliah di Kampus yang Nggak Ada di Google

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 14 Nov 2022 16:31 WIB
Bahlil Lahadalia
Foto: Bahlil Lahadalia (Tim Infografis Fuad Hasim)
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku sering melakukan debat internasional soal arah kebijakan Indonesia. Salah satunya debat tentang kebijakan hilirisasi Indonesia, dan larangan ekspor nikel mentah.

Bahlil mengatakan, banyak negara maju tidak setuju dengan rencana Indonesia. Bahkan dirinya harus berdebat tiga setengah bulan sampai akhirnya didukung India, Afrika dan Brazil.

Pada kesempatan itu, Bahlil bercerita harus menghadapi menteri-menteri dari negara maju lulusan Harvard University. Sedangkan dirinya hanya lulusan dari universitas daerah.

"Saya sampaikan pada mereka, menteri-menteri Amerika kan pinter-pinter, mereka kuliah di Harvard. Kita kuliahnya di kampus Jayapura yang dicari di Google pun nggak ada nama kampusnya. Diplomasi sama orang kuliah hebat-hebat," canda Bahlil dalam acara The Introduction to G20 Bali Compendium & The Launch of Sustainable Investment Guidelines, Senin (14/11/2022).

Ia mengatakan, kampus tidak menjamin kualitas seseorang. Yang menjamin kualitas justru datang dari diri sendiri.

"Dan disitu saya yakin, saya baru yakin kampus tidak menjamin kualitas seseorang. Yang menjamin kualitas seseorang mahasiswa itu sendiri," tegasnya.

Diketahui Bahlil merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay, Jayapura. Melansir laman resmi STIE Port Numbay, Bahlil mendapat gelar sarjananya pada tahun 2022.

Bahlil mengatakan, tidak ada negara manapun yang boleh mengatur Indonesia. Ia menegaskan posisi setiap negara harus sejajar satu sama lain.

"Ada negara-negara yang merasa lebih berhak mengatur negara lain. Ada yang merasa lebih pintar dan lebih tahu, seolah-olah dia lahir duluan dan dia paling ngerti. Saya katakan ini cara-cara yang tidak relevan dengan perkembangan global," hujannya.

Terkait gelaran G20, ia menyebut mandat ini adalah kehormatan bagi Indonesia. G20 juga disebut dapat mempengaruhi arah kebijakan global.

"Saya jujur mengatakan dari lubuk hati paling dalam, awal-awal nggak ngerti apa itu G20. Memang dasar sekolah di kampung, jadi nggak ngerti. Setelah saya pelajari, dan terlihat ternyata ini adalah forum yang luar biasa untuk mempengaruhi kebijakan global," pungkasnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT