'Winter is Coming', Warga AS Harus Ngirit Gegara Harga Heater Makin Mahal

ADVERTISEMENT

'Winter is Coming', Warga AS Harus Ngirit Gegara Harga Heater Makin Mahal

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Senin, 21 Nov 2022 08:04 WIB
Snow and ice cover Lake Michigan as a man runs at Montrose Beach in Chicago, Monday, Jan. 17, 2022. (AP Photo/Nam Y. Huh)
Foto: AP/Nam Y. Huh
Jakarta -

Memasuki musim dingin banyak orang di Amerika Serikat (AS) menghadapi kondisi sulit. Pilihannya dua, membayar ongkos mahal untuk menghangatkan rumah, atau memilih tidak menggunakannya.

Harga penghangat ruangan meroket 18% menjelang musim dingin. Hal ini berdasarkan data Asosiasi Direktur Bantuan Energi Nasional (NEADA).

Chairman Johnson yang bekerja di layanan Philadelphia's Heater Hotline memahami kondisi ini. Philadelphia's Heater Hotline adalah bagian dari organisasi nirlaba yang membantu keluarga berpenghasilan rendah dengan sistem pemanas dan tagihan mereka.

Dibantu oleh putranya, Johnson membayar lebih dari US$ 1.000 atau Rp 15,6 juta (kurs Rp 15.600) untuk mengisi tangki minyaknya. Ia berharap persiapan ini mampu bertahan sepanjang musim dingin.

Johnson tidak memenuhi syarat mendapat bantuan pemerintah terkait penghangat ruangan. Tingginya inflasi dan beban pengeluaran membuat ia harus menggunakan minyak tersebut seirit mungkin.

"Sangat menyedihkan, rasanya seperti tinggal di Igloo (rumah suku Eskimo)," katanya, dikutip dari CNN, Senin (21/11/2022).

Banyak warga AS sengaja mematikan penghangat ruangan di rumahnya. Hal ini disebabkan karena tingginya ongkos yang harus mereka keluarkan.

Tingginya harga penghangat ruangan didorong oleh beberapa faktor. Menurut Energy Information Administration (EIA), beberapa di antaranya adalah OPEC+ yang memangkas produksi, lonjakan ekspor energi, persediaan energi yang rendah, dan tingginya permintaan gas alam bagi industri listrik di AS.

EIA mengatakan, penghangat ruangan dengan gas alam naik 25%. Sementara yang memakai listrik naik sekitar 11%.

Kenaikan tertinggi terjadi pada penghangat ruangan yang memakai minyak, yang diperkirakan naik 45% dibanding tahun lalu. Ini menjadi beban berat bagi 5 juta rumah tangga warga AS, khususnya yang tinggal di sekitar Timur Laut.

Tim Wiseley tidak menghidupkan penghangat ruangan, bahkan saat suhu turun ke titik beku. Dia ingin minyak pemanasnya bertahan selama mungkin dan biaya pengisian tangkinya tetap US$ 1.500.

"Suhu di sini 10-12 dan cukup dingin," ungkapnya. Namun ia menyebut baru akan menyalakan penghangat saat giginya sudah menggigil.

Wiseley yakin dia akan kehabisan minyak pemanas suatu saat nanti Ia pun tidak yakin apa yang akan dia lakukan ketika itu terjadi.



Simak Video "Musim Dingin Dijadikan Senjata Pemusnah Massal, Ukraina Evakuasi Warga "
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT