ADVERTISEMENT

Resesi Ekonomi di Depan Mata, Inggris Jadi Kepikiran Lagi soal Brexit

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 24 Nov 2022 14:26 WIB
The union flag flies over the Houses of Parliament in Westminster, in central London, Britain June 24, 2016.     REUTERS/Phil Noble
Foto: REUTERS/Phil Noble
Jakarta -

Inggris mulai berpikir ulang tentang dampak dari keputusannya keluar dari Uni Eropa atau Brexit. Hal itu terjadi usai ekonomi negara tersebut terus merosot menuju jurang resesi.

Melansir CNBC, Kamis (24/11/2022), keputusan Inggris untuk melakukan Brexit dianggap menimbulkan kerugian ekonomi secara jangka panjang.

Menurut proyeksi The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), hanya Rusia yang diprediksi mengalami kontraksi ekonomi lebih besar dari Inggris pada 2023. Sementara negara maju lainnya dan yang tergabung di G20 diyakini tidak mengalami nasib serupa dengan Inggris.

Bahkan proyeksi pertumbuhan Inggris lebih rendah dari pada Jerman, yang ekonominya terpapar parah dari kenaikan harga energi imbas ketergantungan impor gas dari Rusia.

Menurut OECD, ekonomi Inggris bernasib parah karena memang kondisinya sudah mengalami penurunan tajam sejak Brexit. Keputusan itu membuat Inggris tidak lagi masuk urusan perdagangan dan kepabeanan bersama dengan Uni Eropa, dan membuat biaya modal jadi lebih tinggi.

Bahkan lembaga independen Office for Budget Responsibility (OBR) Inggris mengeluarkan proyeksi lebih suram tentang ekonomi Inggris. OBR memprediksi PDB Inggris terkontraksi -1,4% di 2023. Proyeksi itu dibuat meski Bank of England dan pemerintah dipaksa untuk memperketat kebijakan moneter dan fiskal untuk menahan inflasi dan mencegah ekonomi terlalu panas.

OBR juga menyatakan bahwa Brexit telah menimbulkan intensitas perdagangan Inggris menjadi 15% lebih rendah dalam jangka panjang daripada jika negara tersebut tetap berada di UE.

Partai oposisi di Inggris, Partai Buruh juga mengkritik rencana fiskal pemerintah karena ekonominya sudah mulai terjun ke jurang resesi dan penurunan standar hidup paling tajam. Namun Partai Buruh menekankan tidak setuju jika harus kembali ke Uni Eropa.

Partai Buruh Inggris juga menjanjikan bisa membuat Brexit lebih berhasil jika menang dalam pemilihan umum pada 2025 nanti.

Padalah para ekonom telah menyarankan bahwa salah satu atau kedua langkah ini akan membantu meredam pukulan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang negara itu.

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT