Ekonomi AS Bisa Boncos Rp 15 T Sepekan Gegara Jaringan Kereta Lumpuh

ADVERTISEMENT

Ekonomi AS Bisa Boncos Rp 15 T Sepekan Gegara Jaringan Kereta Lumpuh

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 25 Nov 2022 08:53 WIB
A railway employee walks near freight cars, following Lithuanias ban of the transit of goods under EU sanctions through the Russian exclave of Kaliningrad on the Baltic Sea, in Kaliningrad, Russia June 21, 2022. REUTERS/Vitaly Nevar
Ilustrasi Kereta Barang/Foto: REUTERS/Vitaly Nevar
Jakarta -

Rencana aksi mogok kereta barang Amerika Serikat (AS) memberikan dampak yang besar bagi negara tersebut. Berdasarkan analisis Anderson Economic Group, pekan pertama pemogokan akan merugikan ekonomi AS sampai US$ 1 miliar atau Rp 15,6 triliun (kurs Rp 15.600).

Dikutip dari CNN, Jumat (25/11/2022), dalam tiga hari pertama saja, pekerja dan konsumen AS dapat melihat potensi kerugian sampai seperempat miliar dolar AS.

"Dampak ekonomi yang disebabkan oleh pemogokan kereta api nasional termasuk hilangnya upah bagi pekerja industri dan perlambatan produksi karena tidak terkirimnya komponen penting di beberapa industri yang rentan," kata laporan dari Anderson Economic Group.

Industri tersebut mencakup etanol, ritel, dan pertanian. Asosiasi ritel menyerukan agar pembuat kebijakan turun tangan menghindari bencana ekonomi ini.

"Perhitungan menunjukkan dampak hari pertama sekitar US$ 60 juta, termasuk US$ 30,9 juta untuk kehilangan barang, US$ 3,8 juta untuk gangguan rel penumpang jangka panjang dan US$ 25 juta untuk upah industri kereta api yang hilang," ungkap analisis tersebut.

Ini tidak termasuk efek tidak langsung atau kerugian pada industri lain atau kerugian pendapatan bagi investor dan manajer perusahaan kereta api. Kerugian pemogokan hari kedua dan ketiga akan meningkat menjadi US$ 91 juta per hari karena kehilangan barang pertanian dan pembusukan makanan.

Sebanyak empat serikat pekerja yang menolak perjanjian tentatif telah menetapkan tanggal pemogokan bersama pada 9 Desember jika mereka tidak mencapai kesepakatan kontrak baru.

Dalam laporan sebelumnya dijelaskan, industri perkeretaapian di AS memang tengah dilanda masalah serius. Utamanya adalah karena penerapan jam kerja yang dianggap tak manusiawi serta sistem pengupahan yang dianggap terlalu rendah.

Para pekerja marah karena mereka merasa apa yang mereka dapat tak sebanding dengan beban kerja yang mereka hadapi. Perusahaan kereta dianggap 'menimbun' keuntungan besar dengan menaikkan tarif dan memangkas ongkos pekerja. Pun ada dividen atau pembagian sebagian keuntungan hanya dirasakan para investor dan para pekerja.

(acd/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT