Bye Resesi, Ekonomi RI Diramal Bisa Tumbuh 5,5% di 2024

ADVERTISEMENT

Bye Resesi, Ekonomi RI Diramal Bisa Tumbuh 5,5% di 2024

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 06 Des 2022 12:00 WIB
Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2021 diramal tembus 7%. BI menyebut hal ini karena pemulihan di sektor pendukung turut mendorong ekonomi nasional.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 4,7% hingga 5,5% pada tahun 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global.

Perry menyebut, tahun ini ekonomi dunia bisa tumbuh di kisaran 3%. Sedangkan tahun depan berada di level 2,6%.

"Tahun 2024 (pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi di 4,7% - 5,5%. Ojo dibanding bandingke lah dengan (ekonomi) dunia," kata Perry dalam Rakornas, Selasa (6/12/2022).

Sebelumnya Perry menyampaikan pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh konsumsi swasta, investasi dan tetap positifnya kinerja ekspor.

Dia mengungkapkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) diprakirakan menurun dan kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024, dengan inflasi inti akan kembali lebih awal pada paruh pertama 2023, seiring dengan tetap terkendalinya inflasi harga impor (imported inflation) dengan nilai tukar Rupiah yang stabil dan respons kebijakan moneter yangfront loaded,pre-emptive,danforward looking.

Menurut dia koordinasi kebijakan yang erat dengan Pemerintah Pusat dan Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) berkontribusi kuat pada terkendalinya inflasi. Sinergi dan inovasi merupakan kunci dari prospek kinerja ekonomi Indonesia pada 2023 dan 2024 yang akan melanjutkan ketahanan dan kebangkitan ekonomi.

Perry menjelaskan dibutuhkan sinergi dan inovasi sebagai kunci untuk menghadapi gejolak global. "Optimisme terhadap pemulihan ekonomi perlu terus diperkuat dengan tetap mewaspadai rambatan dari ketidakpastian global, termasuk risiko stagflasi (perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi) dan bahkan resflasi (resesi ekonomi dan inflasi tinggi)," kata dia.

Hal ini mengingat risiko koreksi pertumbuhan ekonomi dunia dan berbagai negara dapat terjadi apabila tingginya fragmentasi politik dan ekonomi terus berlanjut, serta pengetatan kebijakan moneter memerlukan waktu yang lebih lama untuk mampu menurunkan inflasi di masing-masing negara.

Stabilitas eksternal akan tetap terjaga, transaksi berjalan diprakirakan berada pada kisaran surplus 0,4% sampai dengan defisit 0,4% dari PDB pada 2023 dan surplus 0,2% sampai dengan defisit 0,6% dari PDB pada 2024, sementara neraca modal dan finansial surplus didukung PMA dan investasi portofolio. "Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga baik dari sisi permodalan, risiko kredit, dan likuiditas," ujar dia.

Pertumbuhan kredit akan tumbuh pada kisaran 10%-12% pada 2023 dan 2024. Ekonomi dan keuangan digital juga akan meningkat pada 2023 dan 2024 dengan nilai transaksie-commercediprakirakan mencapai Rp 572 triliun dan Rp 689 triliun, uang elektronik Rp 508 triliun dan Rp 640 triliun, dandigital bankinglebih dari Rp 67 ribu dan Rp 87 ribu triliun.

Lihat juga Video: Swedia dan Indonesia Jalin Kerja Sama Jangka Panjang untuk Ekonomi Hijau

[Gambas:Video 20detik]




(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT