Jumlah Rekening Kredit Turun, UMKM Harus Apa?

ADVERTISEMENT

Jumlah Rekening Kredit Turun, UMKM Harus Apa?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 08 Des 2022 16:52 WIB
Deretan UMKM yang menjajakan produk-produk lokal mejeng di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (12/11/2022).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pemulihan ekonomi dalam negeri masih terus dilakukan di tengah ancaman resesi global pada 2023. Pengusaha didorong untuk bisa lebih cermat dalam membaca situasi ekonomi saat ini.

Apalagi, bunga kredit bank di Indonesia masih tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Berdasar catatan Kadin Indonesia, rata-rata bunga kredit bank di Indonesia mencapai 10,4%. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam 7,7%, Filipina 7,1%, Malaysia 4,9%, dan Thailand 4,1%.

"Hal itu menjadi penyebab penurunan jumlah rekening kredit bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) terpilih periode 2022 - 2027, Kamrussamad, Kamis (8/12/2022).

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak pandemi, jumlah rekening kredit UMKM turun cukup tajam dari 16,12 juta rekening menjadi 15,44 juta rekening di Juli 2020 atau turun sebesar 4,20%.

Jika melihat penurunan jumlah rekening berdasarkan segmen, terlihat bahwa penurunan jumlah rekening paling tajam terjadi pada segmen kredit Mikro, di mana rekening kredit Mikro turun sebesar 6,49% dari posisi Maret 2020 sebesar 13,62 juta menjadi 12,73 juta dan belum menunjukkan adanya pemulihan.

Untuk merangsang pemulihan sektor UMKM, pemerintah telah meluncurkan berbagai bantuan dalam kebijakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Di antaranya, restrukturisasi pinjaman, bantuan presiden produktif, dan subsidi bunga. Dan sayangnya, itu belum terserap maksimal.

Menurut survei OJK, secara keseluruhan tingkat pengetahuan pelaku UMKM akan bantuan pemerintah masih rendah, dengan nilai rata-rata kurang dari 55 persen pada semua program PEN.

Setiap sektor usaha menerapkan solusi jangka pendek yang berbeda-beda. Hasil survei OJK menunjukkan bahwa hanya Sebagian kecil pelaku usaha yang menerapkan pemutusan hubungan kerja maupun pengurangan gaji karyawan sebagai solusi mengatasi kerugian akibat pandemi, dengan sektor makanan dan minuman, manufaktur, serta transportasi dan pergudangan menerapkannya lebih banyak dibanding sektor-sektor lain.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT