China Tinggalkan Kebijakan Nol COVID-19, Bagaimana Ekonominya 2023?

ADVERTISEMENT

China Tinggalkan Kebijakan Nol COVID-19, Bagaimana Ekonominya 2023?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 03 Jan 2023 16:17 WIB
Chinas President Xi Jinping arrives to attend the APEC Economic Leaders Meeting during the Asia-Pacific Economic Cooperation, APEC summit, Saturday, Nov. 19, 2022, in Bangkok, Thailand. (Jack Taylor/Pool Photo via AP)
Foto: Jack Taylor/Pool Photo via AP
Jakarta -

China terus berupaya untuk bangkit dari tekanan COVID-19. Pasalnya sudah 3 tahun negara ini berulang kali melakukan isolasi untuk menekan penyebaran penyakit.

Kebijakan nol COVID yang ketat beberapa waktu lalu membuat ekonomi China tertekan. Kondisi ini turut mempengaruhi seluruh dunia, karena terganggunya rantai pasok dan transaksi perdagangan serta investasi terdampak.

Dikutip dari CNN disebutkan saat ini ekonomi global sedang menghadapi tantangan yang berat mulai dari krisis energi, pertumbuhan yang melambat sampai inflasi tinggi. Dicabutnya kebijakan pembatasan di China bisa mendorong optimisme roda perekonomian.

Namun, rencana pembukaan ini masih tidak dapat ditentukan. Kalangan ekonom menyebut ekonomi China masih akan menemui tantangan tahun 2023 ini.

Potensi resesi global juga bisa memicu munculnya masalah baru di negara tersebut. "Jangka pendek saya meyakini ekonomi China akan sedikit kacau, karena China kurang siap menghadapi COVID," kata Analis Senior Loomis Sayles & Company, Bo Zhuang dikutip dari CNN, Selasa (2/1/2023).

Dia menjelaskan selama hampir tiga tahun, China masih berupaya untuk menekan penyebaran virus dengan pembatasan aktivitas besar-besaran. Meskipun hal ini membuat ekonomi negara tersebut merosot tajam dan pertumbuhannya sangat lambat. Lalu keuntungan dari perusahaan juga semakin menipis hingga naiknya angka pengangguran di usia muda.

Di tengah keresahan tersebut, pemerintah China kemudian menempuh langkah untuk meninggalkan kebijakan nol-COVID. Banyak orang menunggu-nunggu pelonggaran. Namun hal ini justru membuat banyak orang lengah dan harus memperjuangkan sendiri kesehatan mereka.

"Awalnya saya yakin pembukaan kembali ini bisa memicu kenaikan gelombang kasus dan membebani sistem kesehatan di China bahkan sampai mengurangi konsumsi dan produksi," ujar dia.

Zhuang mengatakan, infeksi virus yang sangat cepat ini membuat banyak orang untuk berdiam diri di rumah. Membuat banyak toko dan restoran kosong tanpa pelanggan. Pabrik dan perusahaan juga terpaksa menutup atau memangkas produksi karena semakin banyak pekerja yang terinfeksi virus.

Analis Capital Economics menyebut hidup berdampingan dengan COVID ternyata lebih sulit daripada yang diperkirakan orang banyak.

Kalangan ekonom memprediksi ekonomi China akan berkontraksi 0,8% pada kuartal I 2023, sebelum akhirnya bisa rebound pada kuartal kedua.

Pakar ekonomi lainnya memperkirakan ekonomi bisa pulih setelah Maret. Ekonom HSBC memproyeksi kontraksi pada kuartal I 2023 akan tercatat 0,5% dan secara keseluruhan 2023 ekonomi bisa tumbuh 5%.

Memang penjualan properti di China tercatat anjlok lebih dari 26% dalam 11 bulan terakhir. Kemudian diikuti dengan investasi di sektor properti yang turun 9,8%.

Lihat juga video 'Negara yang Wajibkan Hasil Tes Negatif Covid-19 Bagi Pelancong Asal China':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT