Edan! 'Celengan' Orang Kaya Dunia Makin Gemuk di Tengah Pandemi

ADVERTISEMENT

Edan! 'Celengan' Orang Kaya Dunia Makin Gemuk di Tengah Pandemi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 16 Jan 2023 11:29 WIB
Unik! Ini 7 Kebiasaan Makan Mark Zuckerberg hingga Elon Musk
Foto: The Richest
Jakarta -

Orang terkaya di dunia terus menerus bertambah hartanya. Kekayaan segelintir orang ini terus bertambah dengan cepat selama dua tahun terakhir di tengah pandemi COVID-19 yang berkecamuk.

Menurut laporan soal kesenjangan sosial yang dirilis lembaga Oxfam, sekitar 1% populasi dunia yang menjadi orang terkaya di dunia hartanya bertambah dua kali lipat.

Dilansir dari CNN, Senin (16/1/2023), kekayaan 1% populasi itu melonjak sebesar US$ 26 triliun atau sekitar Rp 387,4 kuadriliun, sedangkan 99% terbawah hanya melihat kekayaan bersih mereka naik sebesar US$ 16 triliun atau sekitar Rp 238,4 kuadriliun (kurs Rp 14.900).

Laporan tersebut mengacu pada data yang dikumpulkan oleh Forbes, bertepatan dengan dimulainya pertemuan Forum Ekonomi Dunia tahunan di Davos, Swiss, sebuah pertemuan elit dari beberapa orang terkaya dan pemimpin dunia.

Sementara itu, banyak dari mereka yang kurang beruntung sedang berjuang. Sekitar 1,7 miliar pekerja tinggal di negara-negara di mana inflasi melebihi kenaikan upah. Pengentasan kemiskinan kemungkinan terhenti tahun lalu setelah jumlah orang miskin global meroket pada tahun 2020.

"Sementara orang biasa berkorban setiap hari untuk hal-hal penting seperti makanan, orang super kaya bahkan telah berhasil mewujudkan impian terliar mereka," kata Gabriela Bucher, direktur eksekutif Oxfam International.

Meskipun kekayaan mereka sedikit menurun selama setahun terakhir, miliarder global masih jauh lebih kaya daripada saat awal pandemi. Kekayaan bersih mereka mencapai US$ 11,9 triliun menurut Oxfam.

Meskipun turun hampir US$ 2 triliun dari akhir 2021, itu masih jauh di atas US$ 8,6 triliun yang dimiliki miliarder pada Maret 2020.

3 Penyebab Orang Kaya Makin Kaya

Nabil Ahmed, direktur keadilan ekonomi Oxfam America menyatakan orang kaya mendapat manfaat dari tiga tren.

Pertama, pada awal pandemi, hampir semua pemerintah di berbagai negara terutama negara-negara kaya menggelontorkan triliunan dolar ke ekonomi mereka untuk mencegah keruntuhan. Hal ini mendorong saham dan aset lain melonjak nilainya.

"Begitu banyak dari uang segar itu berakhir dengan orang-orang yang sangat kaya, yang mampu mengatasi lonjakan pasar saham ini, ledakan aset ini," kata Ahmed.

Tren kedua, sekitar 95 perusahaan makanan dan energi memperoleh keuntungan lebih dari dua kali lipat pada tahun 2022. Hal ini terjadi karena inflasi membuat harga melonjak. Sebagian besar uang ini dibayarkan kepada pemegang saham.

Kemudian yang ketiga adalah kurangnya penarikan pajak kepada orang terkaya. Untuk mengatasi ketimpangan yang semakin meningkat ini, Oxfam menyerukan kepada pemerintah untuk menaikkan pajak bagi penduduk terkaya mereka.

Oxfam mengusulkan memperkenalkan pajak kekayaan satu kali dan pajak rejeki untuk mengakhiri pencatutan dari krisis global, serta meningkatkan pajak secara permanen pada 1% penduduk terkaya menjadi setidaknya 60% dari pendapatan mereka dari tenaga kerja dan modal.

Mereka percaya bahwa tarif di atas 1% harus cukup tinggi untuk secara signifikan mengurangi jumlah dan kekayaan mereka. Dana tersebut kemudian bisa didistribusikan kembali untuk mengatasi ketimpangan.

Lihat juga video 'Jack Ma Akhirnya Bicara, Bahas Nasib Guru dan Pandemi':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT