China Beri Keringanan Utang ke Sri Lanka, Bisa Bayar Mulai Tahun Depan

ADVERTISEMENT

China Beri Keringanan Utang ke Sri Lanka, Bisa Bayar Mulai Tahun Depan

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 25 Jan 2023 09:38 WIB
People wait in queue to get their passports outside Department of Immigration & Emigration in Colombo, Sri Lanka, Monday, July 18, 2022. The Indian Ocean island nation is engulfed in an unprecedented economic crisis that has triggered political uncertainty. (AP Photo/Rafiq Maqbool)
Warga Sri Lanka Antre Paspor Demi Bisa Pergi ke LN/Foto: AP/Rafiq Maqbool
Jakarta -

Bank Ekspor-Impor China atau China EximBank menawarkan bantuan moratorium utang selama dua tahun kepada Sri Lanka. Negeri Tirai Bambu itu merupakan pemberi utang terbesar ke Sri Lanka.

Sri Lanka merupakan negara berpenduduk 22 juta orang yang sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam tujuh dekade. China menyatakan dukungannya agar negara tersebut mendapat pinjaman US$ 2,9 miliar atau Rp 42,34 triliun (kurs Rp 14.600) dari Dana Moneter Internasional (IMF).

India juga berpesan kepada IMF awal bulan ini dan menyatakan berkomitmen untuk mendukung Sri Lanka dengan pembiayaan dan keringanan utang. Di sisi lain, Sri Lanka juga membutuhkan dukungan China untuk mencapai kesepakatan akhir dengan pemberi pinjaman global.

Dukungan pun diberikan di mana China EximBank mengatakan akan memperpanjang pembayaran utang yang jatuh tempo pada 2022 dan 2023 sebagai tindakan darurat berdasarkan permintaan Sri Lanka.

"Anda tidak perlu membayar pokok dan bunga pinjaman bank selama periode yang disebutkan di atas," bunyi surat kepada Sri Lanka dikutip dari Reuters, Rabu (25/1/2023).

Menurut data IMF, pada akhir 2020 Sri Lanka berutang kepada China EximBank US$ 2,83 miliar atau 3,5% dari utang luar negeri negara itu. Secara total Sri Lanka berutang kepada China sebesar US$ 7,4 miliar, atau hampir seperlima dari utang luar negerinya pada akhir 2022.

"Bank akan mendukung Sri Lanka dalam Fasilitas Dana Perpanjangan IMF (EFF) untuk membantu meringankan tekanan likuiditas," bunyi surat China menambahkan.

Juru Bicara IMF mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima komitmen India, tetapi tidak mengomentari surat China. Sementara Sri Lanka mengharapkan jaminan yang lebih jelas dari China, sejalan dengan apa yang diberikan India kepada IMF.

"China diharapkan berbuat lebih banyak. Ini jauh lebih sedikit dari yang diminta dan diharapkan dari mereka," kata salah satu sumber Sri Lanka yang tidak mau disebutkan namanya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT