Menteri PANRB Sebut Ada 'Racun' yang buat Dompet ASN Boncos

ADVERTISEMENT

Menteri PANRB Sebut Ada 'Racun' yang buat Dompet ASN Boncos

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Rabu, 25 Jan 2023 16:35 WIB
Abdullah Azwar Anas telah dilantik menjadi Menteri PAN-RB di Istana Negara, Rabu (7/9). Mantan Bupati Banyuwangi itu menggantikan almarhum Tjahjo Kumolo.
Foto: Lucas/Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas mengungkap biang kerok dari dompet para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kerap boncos. Ialah aktivitas kredit.

"Jadi sebenarnya kalau konsep cukup (honor), ya cukup. Kurang karena banyak kreditan," kata Anas dalam Penutupan Acara ASN Culture Fest 2023 di The Westin Jakarta, Rabu (25/01/2023).

Padahal menurut Anas, dapat dikatakan kesejahteraan para pekerja PNS ini di atas rata-rata kesejahteraan masyarakat RI. Hal ini terlihat dari data yang disajikan oleh Anas dalam pemaparannya. Di sana disajikan perbandingan antara data anggaran satu orang PNS per tahun dengan pendapatan per kapita RI.

"Memang lembaga kredit ini meracuni kita. Gagal lewat kita, lewat istri kita. Gagal lewat istri kita, lewat HP anak kita. Sehingga kita termasuk negara yang sangat konsumtif. Yang tidak perlu dibelanjakan, yang tidak produktif dibelikan," katanya.

Oleh karena itu, menurutnya, para ASN ini perlu bersyukur. Apalagi, mengingat di tengah goncangan dunia saat ini para ASN masih bisa terjamin kehidupannya dengan pendapatan yang tetap alias fix income.

"Maka kita mesti bersyukur, ya kalau kurang ya kurang, menteri ni kalau gaji kurang ya kurang, lah bener siang malam kalah sama komisaris. tapi kita harus bersyukur supaya kita sehat dan wjah kitacerah. Dan kalau bersyukur insyaallah cukup terus," ujar Anas.

Anas juga turut mengingatkan, lebih dari 40 negara sudah berada di depan pintu International Monetary Fund (IMF), mengantre untuk menjadi pasien. Ditambah lagi, IMF dan bank dunia telah merevisi lebih dari 2 kali terkait target pertumbuhan ekonomi dunia yang kini berada di bawah angka 2%.

"Artinya apa? Ekonomi sangat berat. Nah di tengah dunia yang sangat berat ini, dunia bisnis harus melakukan analisis bagaimana kebijakan bisnis mereka akan terus bertahan, dalam keadaan belum ada yang pasti bisnis mereka akan bertahan di 2023," kata Anas.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT