Menko Perekonomian:
Impor Beras dalam Waktu Dekat
Kamis, 31 Agu 2006 14:40 WIB
Jakarta - Pemerintah kembali memberikan sinyal untuk melakukan impor beras dalam waktu dekat ini. Tujuannya untuk menjaga stok aman sampai akhir 2006.Selanjutnya pemerintah akan melakukan desentraliasasi ke daerah-daerah yang rawan beras untuk membuat stok aman, yang bisa digunakan setiap waktu saat bencana atau operasi pasar (OP).Saat ini pemerintah sedang menggodok landasan perhitungan penyusunan sistem desentralisasi."Untuk sistem ini kita belum tahu berapa jumlahnya yang diperlukan. Masih menunggu masukan dari berbagai daerah apakah nantinya diperlukan impor atau tidak untuk memenuhi stok ini kita masih belum tahu. Tapi ya barangkali kita perlu impor dalam waktu dekat," kata Menko Perekonomian Boediono.Hal itu disampaikan Menko Perekonomian Boediono saat konferensi pers tentang Program Pembagunan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Gedung Departemen Keuangan (Depkeu), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (31/8/2006). Pemerintah, ungkap Boediono, saat ini sedang berupaya menahan harga maupun menyediakan beras dalam negeri. "Artinya mulai sekarang sampai menjelang panen yang akan datang kita bersungguh-sugguh menjaga kestabilan harga," kata Boediono. Kestabilan harga tersebut tidak merugikan petani maupun konsumen. Oleh sebab itu pemerintah tidak membiarkan harga meningkat lebih jauh atau anjlok sehingga merugikan petani.Impor beras juga diperlukan untuk menjaga stok beras pemerintah (iron stock. Pasalnya persediaan pemerintah yang dipatok sebesar 350 ribu ton saat ini sudah jauh berkurang karena dipakai untuk keperluan bencana dan kekeringan."Itu stok milik pemerintah, bukan Bulog. Kalau Bulog pembukuannya berbeda kalau dari pemerintah didanai APBN," katanya.Langkah pertama yang dilakukan pemerintah, ungkap Boediono, adalah mengembalikan stok sehingga dalam empat bulan ke depan tidak mengalami masalah.Sementara Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, untuk impor beras masih belum ada kepastian baik dalam jumlah maupun waktunya.Namun menurut Deputi Menko Perekonomian bidang Pertanian dan Agro Industri, Bayu Krisnamurti, impor tersebut untuk menjaga kestabilan harga terutama pada saat bulan puasa dan Lebaran."Yang kita cermati adalah adanya kemungkinan kenaikan harga kan ada Ramadan, Idul Fitri, kalau bisa pada waktu itu kita bisa antisipatif. Kan kita mau masuk musim penghujan dan beberapa daerah berpotensi banjir," kata Bayu.Menurut Bayu, fokus pemerintah soal impor beras adalah pengendalian harga, melalui peningkatan cadangan beras pemerintah melalui.Pemerintah hanya mampu menyediakan stok beras 350 ribu ton karena terbatasnya dana. Sementara stok beras yang aman berdasarkan standar Badan Pangan Internasional (FAO) adalah 2,5-3,5 persen dari total konsumsi atau untuk Indonesia sekitar 800-1,2 juta ton.
(ir/)











































