Kontrak Exxon di Blok Natuna Tamat

Kontrak Exxon di Blok Natuna Tamat

- detikFinance
Selasa, 10 Okt 2006 20:52 WIB
Jakarta - Sikap Exxon yang ogah-ogahan mengembangkan lapangan gas Natuna D-Alpha membuat pemerintah berang. Pemerintah pun telah menyatakan kontrak Exxon di blok itu telah tamat.Saat ini pemerintah telah mengkaji soal kemungkinan PT Pertamina mendapat prioritas khusus mengelola lapangan gas itu.Sikap keras pemerintah disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro saat buka puasa di Departemen ESDM Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (10/10/2006)Padahal sebelumnya Purnomo, sebelum berangkat ke Amerika Serikat (AS) dengan Presiden SBY menyatakan, kontrak Exxon di Natuna D-Alpha baru akan habis pada 8 Januari 2007.Soal pernyataan dia sebelumnya itu, Purnomo mengatakan, kontrak Exxon sudah berakhir karena perusahaan asal Amerika itu tidak bisa memasukkan komitmen pengembangan blok Natuna disertai komersialisasi gas pada tahun 2005 saat batas kontrak berakhir. "Maksudnya kita berikan kesempatan untuk check out," ujarnya.Exxon sebelumnya bersikukuh kontrak di Natuna baru akan habis hingga 2009. Ngototnya Exxon itu, kata Purnomo, karena ada perbedaan persepsi bahwa dengan memasukkan surat perpanjangan eksplorasi maka kontrak bisa berlangsung hingga 2009. "Ya tidak bisa begitu, masak hanya ada surat perpanjangan saja," ujar Purnomo.Dia menjelaskan BP Migas telah menolak hal itu karena tidak cukup untuk memperpanjang kontrak. "Comerciality harus jelas pembeli siapa, feasibility study bagaimana. Sudah clear BP Migas mengatakan kontrak sudah habis," tegasnya.Saat ini, pemerintah tengah mengkaji kemungkinan Pertamina mendapatkan prioritas untuk mengelola blok tersebut. "Sebenarnya first right refusal tidak ada dalam kontrak, pemerintah bisa memberikan priviledge pada Pertamina, tapi apakah itu akan dilakukan atau tidak itu masih dalam tahap pembahasan," ujar Purnomo.Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Kardaya Warnika di tempat yang sama mengatakan, pihaknya sudah memberikan kesempatan yang luas kepada Exxon. "Tahun 2005 kontrak habis, lalu kita perpanjang. Namun saat perpanjangan mereka hanya mengirimkan selembar surat perpanjangan. Ya tidak bisa begitu, kan harus ada feasibity studynya. Ini kan lapangan migas," ungkapnya.Dirut Pertamina Ari Soemarno di tempat terpisah mengatakan pihaknya tetap ingin menggarap blok Natuna. Menurut Ari, Exxon sudah mengeluarkan US$250 juta dan dari angka itu 24 persen atau sekitar US$ 60 juta merupakan bagian Pertamina. Jika Pertamina tidak melanjutkan eksplorasi di blok tersebut, maka uang yang ditanamkan akan hilang. Saat ini blok tersebut belum bisa dikembangkan karena biaya yang dibutuhkan sangat besar mencapai US$ 25 miliar. "Kalau nanti ada pengaturan lain, Pertamina jangan dikeluarkan, tetap ada disitu. Jadi Pertamina punya kesempatan mendapatkan kembali uangnya," tukasnya. (mar/mar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads