Fahmi dan Ari Soemarno Saling Ngotot Tabung Elpiji
Jumat, 13 Okt 2006 12:25 WIB
Jakarta - Polemik impor tabung gas berbuntut panjang. Pertamina tetap bersikukuh mengimpor 200 ribu tabung elpiji, sementara Menteri Perindustrian Fahmi Idris tetap menolak impor tersebut.Departemen Perindustrian (Depperin) menjamin industri dalam negeri sanggup memenuhi pesanan 800 ribu unit tabung elpiji dalam rangka konversi minyak tanah ke elpiji."Kemarin sore Pak Ari (Dirut Pertamina) telepon saya complain. Saya katakan benar saya khawatir kalau impor akan ada macam-macam. Kata Pak Ari jangan menuduh, saya bilang saya tidak menuduh. Saya bilang khawatir. Khawatir kan artinya tidak menuduh. Kedua, kemampuan kita ada. Mereka bisa meng-cover dengan kata lain saya katakan banyak pejabat kita yang belum probisnis," papar Fahmi.Fahmi memaparkan hasil pembicaraannya dengan Ari Soemarno tersebut di sela acara penutupan pelatihan konsultan diagnosis IKM, di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (13/10/2006).Fahmi menegaskan, Dirjen terkait yang menangani industri tabung gas sudah meminta waktu sampai Maret 2007 untuk sisanya yang sebesar 200 ribu unit. Sebab sampai akhir tahun, indsutri hanya sanggup membuat 600 ribu unit tabung elpiji, sedangkan pesanan Pertamina mencapai 800 ribu unit.Fahmi menyayangkan sikap Pertamina yang tidak memberikan perpanjangan waktu hingga Maret 2007 dan tetap memutuskan impor."Saya katakan apakah kalau diperpanjang waktu pembuatannya misalnya yang 200 ribu unit ini ada bencana nasional, kan tidak. Kemudian selain pabrik ada juga perbengkelan yang saya dapat laporannya juga mampu," ujar Fahmi dengan nada kesal.Menurut Fahmi, selama ini pengusaha lokal mampu membuat tabung ukuran 27 kilogram (kg), apalagi jika pesanannya ukuran 3 kg. Terlebih pengusaha lokal juga sudah melakukan investasi mold (pencetakan).Fahmi mengkhawatirkan jika dilakukan impor akan membuat industri lokal terpukul, tapi bagaimanapun yang menentukan tetap Pertamina."Pertamina ini gimana ya? Dulu waktu belum dimulai tender saya bikin surat untuk mereka segera lakukan tender, tapi tidak direspons. Begitu saya ngomong di media, baru mereka katakan ya kita akan lakukan tender. Jadi keterlambatan datang dari Pertamina. Kenapa tidak sejak awal dilakukan itu, kenapa baru sekarang hingga terjadi kelambatan suplai. Dia katakan karena keterlambatan suplai makanya dia dukung impor," keluh Fahmi panjang lebar.Diakui Fahmi tabung elpiji dari Cina harganya lebih murah Rp 69 ribu perunit, sedangkan di dalam negeri Rp 90 ribu per unit. Namun harga tabung lokal, menurut Fahmi, bisa ditoleransi sampai 15 persen seperti ketentuan Keppres.
(ir/sss)











































