Pemerintah Keluarkan 2 Jurus untuk Bendung Impor Barang Cina

Pemerintah Keluarkan 2 Jurus untuk Bendung Impor Barang Cina

- detikFinance
Kamis, 02 Nov 2006 14:13 WIB
Jakarta - Banjirnya impor barang Cina yang membuat angka impor Negeri Tirai Bambu itu membeludak akan disikapi pemerintah melalui dua cara.Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah akan membendung impor barang dari Cina dengan cara mengatasi impor ilegal serta peningkatan daya saing."Banjirnya impor dari Cina semua negara mengalami dengan isu yang sama. Sekarang bagaimana dapat bersaing dengan produk RRC khususnya garmen, sepatu dan mainan. Terutama produk yang diproduksi secara massal dengan harga yang lebih murah dari negara lain," tutur Mari.Hal itu diungkapkan oleh Mari di sela acara forum investasi daerah atau Indonesian Regional Investment Forum (IRIF) 2006 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (2/11/2006). Namun, tegas Mari, itu bukan hanya tugas Departemen Perdagangan saja, tapi juga instansi lainnya."Jika impornya legal maka konsumen akan diuntungkan. Di sisi lain kita harus punya langkah bagaimana industri kita apakah perlu beralih ke sektor lain produksinya apabila tidak mampu bersaing. Ini harus diidentifikasi masalahnya, bisa juga yang perlu dibahas adalah ekonomi biaya tinggi," papar Mari.Menurut Mari, produk Indonesia yang sulit bersaing dengan Cina adalah produk yang berkualitas rendah."Tugas pemerintah adalah memfasilitasi industri domestik agar bisa menyesuaikan dengan perubahan global," imbuh Mari.Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Januari-September 2006 menunjukkan, Cina menempati urutan pertama pemasok barang impor dengan nilai US$ 4,01 miliar atau dengan pangsa sebesar 12,86 persen.Cina menggusur posisi Jepang dan AS. Sementara Jepang turun menjadi posisi kedua dengan nilai impor US$ 3,98 miliar atau pangsa 12,76 persen dan Amerika dengan nilai impor US$ 3,17 miliar atau 10,18 persen.Barang-barang impor dari Cina terbesar yang masuk ke Indonesia adalah adalah buah-buahan, dengan nilai impor Januari-September 2006 mencapai US$ 134,6 juta atau meningkat US$ 73,8 juta dibanding periode sama tahun sebelumnya. Disusul produk mesin dan peralatan elektronik, barang kimia dan organik, barang plastik dan mainan, serta sayuran dan makanan kaleng. (ir/nrl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads