Inflasi Masih Mengancam 2007
Selasa, 07 Nov 2006 14:56 WIB
Jakarta -
Meski inflasi 2006 semakin membaik, namun Bank Indonesia (BI) masih mengendus adanya ancaman tekanan inflasi pada tahun 2007. Hal itu didasarkan pada laju inflasi inti sebagai komponen persisten dalam inflasi IHK yang masih tinggi dan belum turun secara signifikan dari rata-rata historisnya pasca krisis.Sumber inflasi diperkirakan berasal dari pertumbuhan ekonomi yang masih belum berimbang. Hal itu diakibatkan masih lambatnya perbaikan di sisi kapasitas produksi dan penyediaan infrastruktur.Demikian Direktur Perencanaan Strategis dan Humas BI, Budi Mulya, dalam siaran pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (7/11/2006).Untuk inflasi Oktober 2006, BI melihat trennya terus turun dan tercatat hanya sebesar 6,29 persen secara year on year, dan 4,96 persen secara kumulatif.Meski beberapa indikator makro ekonomi pun terus membaik, namun Dewan Gubernur BI melihat masih ada beberapa hal yang patut diwaspadai.Selain ancaman inflasi tahun 2007, hal lain yang harus diwaspadai adalah masih lambatnya peningkatan kapasitas produksi yang menyebabkan sisi penawaran masih di bawah harapan.Selain itu, terdapat indikasi tren menurun pada harga komoditas dunia dan tren meningkat pada impor barang konsumsi yang dapat mempengaruhi kinerja neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan.Dari aspek pembiayaan, respons perbankan terhadap penurunan BI Rate secara umum masih membutuhkan waktu penyesuaian dalam bentuk penurunan bunga kredit, terkait dengan penyelesaian NPL perbankan dan proses internal di masing-masing bank. "Dengan mempertimbangkan rincian perimbangan risiko di atas, Dewan Gubernur juga berpandangan bahwa kebijakan moneter ke depan perlu terus dilakukan secara lebih terukur dan berhati-hati untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dalam jangka menengah-panjang dan memantapkan momentum pemulihan ekonomi secara berkelanjutan," jelas Budi.
(qom/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
