Beras Vietnam Tiba di Belawan

Beras Vietnam Tiba di Belawan

- detikFinance
Rabu, 08 Nov 2006 10:11 WIB
Beras Vietnam Tiba di Belawan
Medan - Beras impor asal Vietnam sebanyak 14.800 ton sudah masuk di pelabuhan Belawan Medan. Jumlah ini merupakan setengah dari total 28 ribu ton yang dialokasikan ke Gudang Bulog di Medan.Kapal My An yang memuat 7.450 ton sudah merapat sejak tanggal 3 November dan sedang melakukan bongkar muat. Sebelumnya dua kapal yakni Cabot Orient sudah selesai membongkar muatannya sejumlah 3,600 ton, begitu juga dengan Hung Vuong 01 yang membawa 3.750 ton.Demikian disampaikan Kahumas Divisi Regional Sumatera Utara Aris Fadilah Harahap, saat mengecek proses bongkar muat kapal My An di Pelabuhan Belawan Medan, Rabu (8/11/2006).Aris memaparkan, setiap hari rata-rata terjadi bongkar muat sebanyak 1.000 ton yang dilakukan pada pukul 7.30-22.00 WIB. Setiap truk membawa 360 karung yang per karungnya seberat 50 kilogram (kg) dan diarahkan langsung masuk ke Gudang Baru Bulog (GBB).Beras ini nantinya ditujukan sebagai beras raskin untuk tahun 2007. Harga beras impor ini setara dengan IR-64 dengan broken 15 persen, yang jika dirupiahkan senilai Rp 4.500/kg.Aris menambahkan dari total 28 ribu ton yang dialokasikan ke Medan perinciannya adalah untuk mengisi GBB Mabar 13.900 ton, Labuhan Deli 3.600 ton, Jemadi 4.800 ton dan Mustofa 5.700 ton.Aris menjelaskan, stok gudang Bulog di Medan pada Januari-Desember tahun lalu mencapai 22 ribu ton, ditambah beras impor maka total yang ada di GBB Medan mencapai 50 ribu ton.Sementara itu Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sumatra Utara, Taty Djuwita Nagawati Siregar mengatakan, anggota KTNA Sumut yang berjumlah 30 ribu petani akan turut mengawasi beras impor agar sesuai prosedur tidak merembes ke pasar."Masuknya beras impor belum mempengaruhi harga beras di Sumut bahkan harga jual IR-64 tetap tinggi di harga Rp 4.500/kg," urainya.Taty menjelaskan, produksi beras di Sumut turun sepertiga dari tahun lalu. Hal ini disebabkan minimnya curah hujan sehingga memundurkan musim tanam, pupukurea bersubsidi yang menghilang sejak bulan Agustus ini.Kondisi ini berdampak pada jumlah masa panen yang pada tahun 2005 panen bisa mencapai tiga kali dalam setahun, tapi tahun ini hanya terjadi dua kali.Panen yang hanya dua kali terjadi di sentra produksi padi di Sumut seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun, Asahan, Tapanuli Selatan, Madina dan Langkat."Kondisi ini membuat petani mengalihkan fungsi lahan pertaniannya ke perkebunan seperti kelapa Sawit karena keuntungan lebih tinggi. Ini terjadi di hampir seluruh sentra produksi Sumut. Bahkan kami sinyalir pupuk urea bersubsidi yang langka dipakai untuk perkebunan," paparnya.Saat ini KTNA Sumut sedang berusaha mempertahankan 30 ribu petani untuk menjaga lahan pertaniannya agar tidak dialihfungsikan ke perkebunan, dalam rangka menjaga produksi padi di Sumut. (arn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads