Jika Perundingan WTO Buntu, FTAAP Jadi 'Rencana B'
Kamis, 16 Nov 2006 15:20 WIB
Hanoi - Perundingan World Trade Organisation (WTO) tak kunjung menemui titik temu. Sebuah proposal yang disebut Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP) dimunculkan.Dan FTAAP yang dianggap sebagai 'rencana B' itu ternyata mendapat respons yang cukup baik dari negara-negara Asia Pasifik yang tengah menggelar pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Vietnam, Kamis (16/11/2006).Pada hari pertama pertemuan APEC, negara-negara Asia Pasifik setuju untuk mempelajari 'rencana B' yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS) itu.Dalam proposal itu diusulkan pembentukan kawasan perdagangan bebas yang membentang dari Cina dan Chile. Sejumlah negara maju seperti Australia, Jepang dan Kanada memberi respons yang hangat atas usulan tersebut.Namun sebaliknya, negara-negara berkembang menunjukkan respons yang biasa-biasa saja. Mereka justru menganggap FTAAP itu akan merusak pakta perdagangan bilateral yang sudah ada atau tengah dirintis di kawasan tersebut."Para anggota APEC memberikan pandangan yang hati-hati. Namun semuanya sepakat untuk mengakhiri debat dengan sepakat untuk mempelajari tujuan jangka panjang FTAAP," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang, Mitsui Sakaba seperti dikutip dari AFP.Sementara Menlu Indonesia Hassan Wirajuda mengatakan, beberapa negara Asia Tenggara menentang FTAAP karena mereka memiliki rencana tersendiri untuk kerjasama ekonomi dengan sejumlah rekannya seperti Cina."Beberapa dari kami dalam kepentingan untuk berpikir membangun area perdagangan bebas APEC yang lebih luas. Namun beberapa dari kami tidak dalam kepentingan itu. Jadi saya pikir tidak ada konsensus," ujarnya.Sementara Menlu Australia Alexander Downer menilai, ide FTAAP cukup layak untuk dipertimbangkan."Jika perundingan putaran Doha gagal, maka akan membuat ide area perdagangan bebas Asia Pasifik lebih menarik," tambahnya.Meski siap untuk mempelajari ide FTAAP, namun para menteri sepakat untuk memecahkan kebuntuan WTO tetap menjadi prioritas dalam pertemuan kali ini."Setiap orang setuju bahwa (FTAAP) adalah ide yang baik, tapi bukan menjadi tujuan utama saat ini," ujar seorang pejabat Thailand.Perundingan WTO hingga saat ini masih saja gagal untuk menghilangkan hambatan perdagangan dunia. Hal itu dikarenakan adanya pandangan yang berbeda antara AS, Uni Eropa dan negara-negara berkembang soal subsidi pertanian.
(qom/sss)











































