RI-Rusia Terhadang Perbankan

RI-Rusia Terhadang Perbankan

- detikFinance
Senin, 04 Des 2006 12:00 WIB
Jakarta - Indonesia dan Rusia sama-sama semangat untuk meningkatkan nilai perdagangan. Tapi sayang, niat menggebu-gebu itu masih terkendala masalah perbankan.Selama ini, untuk perdagangan kedua negara harus melewati negara ketiga, mengingat sistem perbankan Rusia yang tidak mapan dan belum berkembang."Hubungan antara bank jadi susah melakukan transaksi langsung, kecuali hubungan langsung dengan perbankan, transportasi dan standar produk," jelas Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjawab detikcom di sela-sela mengikuti kunjungan Presiden SBY di Moskow, Rusia, akhir pekan lalu, Sabtu 2 Desember 2006.Padahal nilai perdagangan Indonesia-Rusia meningkat tajam hingga tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir, dan saat ini total mencapai US$ 600 juta. Angka tersebut lumayan besar dibandingkan volume perdagangan Cina dan Rusia yang mencapai US$ 20 miliar."Potensinya cukup besar karena penduduknya 140 juta dan GDP per kapita naik tiga kali lipat. Kelas menengahnya cukup tinggi. Jadi potensi untuk produk-produk konsumsi kita dan produk pertaninan yang berkaitan dengan makanan seperti yang sekarang banyak kita ekspor seperti kelapa sawit, rempah-rempah, teh, kopi, tembakau dan produk-produk karet, manufaktur, TPT, alas kaki dll. Pesaing kita Malaysia dan RRT," jelas Mari.Ada sebuah solusi untuk mengatasi hambatan itu yakni melalui trading house. "Kita bisa jualnya ke trading house atau kerjasama dengan ritel atau departement store yang besar di sini," tambahnya.Kerjasama antara kamar dagang kedua negara pun telah terjalin. Ketua Kadin MS Hidayat mengatakan, ada tiga MoU yang ditandatangani dengan Kadin Rusia bersamaan dengan kunjungan Presiden SBY ke Rusia pekan lalu. MoU itu di bidang infrastruktur, perdagangan dan investasi, serta perbankan."Selama ini kita tidak ada hubungan langsung dengan bank-bank Rusia. Sistem keuangan di Rusia itu belum semuanya diterima oleh bank internasional, mereka lebih senang dengan sistem counter trade atau imbal dagang," kata Hidayat.Selain MoU, sejumlah investor Rusia juga menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Misalnya saja RusAl yang hendak berinvestasi di sektor alumunium di Indonesia. "Minggu depan akan ke Indonesia ketemu Purnomo (Menteri ESDM) dan Lutfi (Kepala BKPM) di Jakarta. Nilainya sekitar 300 juta dolar, mereka ingin di daerah Kalimantan," tambahnya.Dan dalam rangka memecahkan kendala perbankan itu, bank-bank BUMN diharap menjalin kerjasama."Kita ajak Wakil Dirut BNI Gatot Suwondo. Dia sudah ketemu dengan enam bank Rusia. Waktu saya bicara dengan presiden, presiden juga minta BNI saja yang mengurus itu supaya kita bisa mendapatkan referensi apakah menggunakan sistem perbankan langsung lebih menguntungkan atau tidak," tandas Hidayat. (qom/sss)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads