Mengubah Budaya Kerja Demi Laba

Wawancara Khusus Dirut Pertamina (1)

Mengubah Budaya Kerja Demi Laba

- detikFinance
Selasa, 02 Jan 2007 10:06 WIB
Mengubah Budaya Kerja Demi Laba
Jakarta - Sejak menyandang status persero tahun 2003, Pertamina terus melakukan pembenahan di semua sektor termasuk perubahan budaya kerja. Pencapaian target menjadi ukuran keberhasilan kinerja perusahaan.Sepanjang tahun 2006, Pertamina pun terus mendongkrak keuntungannya. Namun sayang, target produksi tidak bisa tercapai karena terganjal investasi kilang.Untuk mengetahui pencapaian Pertamina sepanjang 2006 dan target tahun 2007, serta kendala produksi minyak tahun 2006, detikcom mewawancarai Dirut Pertamina Ari H Soemarno di ruang kerjanya Gedung Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta, Selasa (2/1/2007).Sepanjang tahun 2006 perubahan apa yang dilakukan Pertamina untuk peningkatan kinerjanya ?Anda tahu kalau saya mulai mengambil alih jabatan ini 8 Maret 2006. Jadi akhir 2006 ini sudah bulan saya ke delapan atau sembilan, Januari nanti bulan kesepuluh.Jadi selama tahun 2006 ini ada hal-hal, selain penggantian direksi itu, ada beberapa yang berbeda. Pertama, untuk pertama kalinya diberlakukannya UU Migas baru sejak Pertamina menjadi persero pada 17 september 2003, itu hal yang baru di 2006 adalah pola pengadaan distribusi atau suplai BBM.Dulu kita sistemnya adalah cost and fee. Jadi barangnya semua barang pemerintah, minyaknya minyak pemerintah, diminta Pertamina mengolahnya di kilang-kilang dan barang jadinya, BBM nya juga milik pemerintah. Kita cuma dapat penggantian ongkos yang ditambah dengan fee.Distribusi juga begitu. Kita diminta mendistribusi barang pemerintah, dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Kemudian kita hanya dapat fee dan diganti biaya distribusi.Tapi sejak tahun 2006 ini sistemnya diubah. Sistemnya yang cost and fee tidak ada lagi. Jadi barangnya barang Pertamina. Pertamina mesti beli barangnya dari pemerintah. Ya, minyaknya minyak mentah pemerintah, kemudian BBM nya punya pertamina. Kemudian jika pertamina diminta jual (dengan) harga jual yang dibawah harga keekonomiannya, Pertamina mendapat penggantian subsidi. Itulah subsidi sekarang. Jadi Pertamina bisa minta penggantian pada pemerintah.Harga keekonomian Pertamina adalah biaya harga pasar internasional, pasargrosir nih, kemudian ditambah biaya distribusi. Biaya distribusi itu termasuk biaya penyimpanan, angkutan laut, angkutan darat, kemudian biaya untuk marginnya SPBU, dan Pertamina boleh minta margin juga sedikit.Jadi waktu itu ditentukan harga keekonomian itu harga MOPS, harga pasar Singapura ditambah 14 persen. Itulah harga Pertamina. Maka jika Pertamina diminta menjual sesuai harga keekonomiannya, harganya adalah harga MOPS ditambah 14 persen tanpa pajak.Pemerintah bilang, Anda hanya boleh jual Rp 4.300 untuk solar, termasuk pajak atau Rp 4.500 untuk premium termasuk pajak. Karena harga saya sebelum pajak adalah harga MOPS ditambah 14,1 persen, kalau jatuhnya dibawah Rp 4.300 tambah pajak dan dibawah Rp 4.500 untuk premium, maka saya dapat penggantian.Itulah subsidi sekarang, itu bedanya. Jadi dengan demikian kita bisa betul-betul tahu untung kita berapa. biaya kita berapa, kita efisien atau tidak. Jadi benar-benar bisa terukur.Ini adalah tahun yang pertama kita jalankan pola seperti itu. Dan itu selama tahun ini kita sudah melaksanakan tugas kita, menurut saya, dengan baik. Khususnya untuk premium dan solar.Dan disamping itu sekarang yang disubsdidi hanya jumlah tertentu saja. Hanya untuk transportasi dan rumah tangga. Jadi, itulah yang juga berbeda. Itukan 70 persen dari total. 30 persennya sudah harga industri.Jadi untuk industri dikasihkan harga keekonomian. Nah, pasar industri itu sudah bebas, siapa saja boleh masuk. Kita harus bersaing dengan mereka. Jadi pasar industri itu sudah bebas.Dengan perubahan tersebut apa target 2006 tercapai ?Dari hasil pemantauan akhir tahun kita telah dapat mencapai target keuntungan, bahkan melampaui target keuntungan itu. Ya, kira-kira Rp 24 triliun setelah pajak. Sebelum pajak operating profit kita sekitar Rp 35-an triliun. Setelah kena pajak turun jadi 23-24 triliun.Jadi itu suatu pencapaian dai segi profit, melampaui target. Sekitar 15 persen diatas target. (Tahun 2005 laba sekitar Rp 11 triliun).Tapi dari segi operasi, diakui ada beberapa terget operasi yang tidak tercapai. Seperti misalnya kilang, kilang itu ditargetkan mengolah jumlah tertentu dari minyak, tapi itu kira-kira under sedikit. (Target produksi minyak 2006 sebesar 1.050.000 barel per hari).Kenapa? Karena sekarang menjalankan kilang tergantung keekonomiannya. Jadikilang itu kalau kita anggap "ah, kita kurangi dulu" karena keekonomiannyakurang bagus, kita kurangi sedikit. Sehingga itu bisa memangkas biaya, bisa mengurangi biaya. Tapi dari segi indikasi operasi itu kan turun.Penurunan yang lain adalah dari segi hulu. Kita memang angka produksi minyak mentahnya sedikit dibawah target. Karena memang ada keterlambatan-keterlambatan, dalam pekerjaan-pekerjaan di lapangan-lapangan itu, keterlambatan dari sistem pendanaan kita.Sistem pendanaan kita kan dulunya internal pembiayaan, dasarnya masih polaakuntansi lama, masih UU lama. Ini kan diubah, jadi masih masa transisilah. Disitu ada keterlambatan-keterlambatan. Padahal kita harusnya sudah lebih bebas. Dan temen-temen di lapangan banyak yang masih mengacu pada sistem yang lama.Kendala yang dialami tahun 2006 bisa diminimalisir atau tidak padatahun ini ?Ya, harusnya di tahun 2007 itu makin berkurang dan berkurang. Itulah program kita. Strategi saya, atau kita direksi baru adalah pertama melakukan transformasi, restrukturisasi di yang paling hilir. Yang paling hilir itu pemasaran niaga, termasuk SPBU. Karena itu yang dilihat masyarakat. Masyarakat melihat Pertamina berubah apa gak dari situ. Dan itu penting dari segi revenue kita, karena disitulah yang tebal revenue generator.Bayangin pompa-pompa bensin kita, retail kita, menghasilkan Rp 700 miliarsampai Rp 1 triliun per hari pendapatan di seluruh Indonesia. Kan bukan main. Nah, itu harus kita jaga. Harus efisien tapi harus kelihatan bagus. Sehingga semua berjalan lancar, kita lakukan otomatisasi, kita on line packing payment, kita kerjasama dengan semua bank.Kemudian strategi kedua adalah yang di hulu. Jadi di hulu ini yang menghasilkan minyak bumi, yang kita genjot untuk melakukan konsentrasi-konsentrasi dengan strategi-strategi yang baik. Karena kalau hilir merupakan penghasil revenue, hulu penghasil keuntungan. Hulu itu yang menghasilkan margin paling gede, jadi dia merupakan kreasi keuntungan tapi risikonya gede, duitnya juga gede.Pertamina bertekad terus melakukan transformasi sebagai komitmen menjadi persero, apa saja yang sudah dilakukan ?Proses kita menuju badan usaha baru masih dalam proses. Ya oleh karena itu, untuk mempercepat itu, saya adakan progran transformasi Pertamina. Selama 2006 ini sudah mulai. Karena transformasi Pertamina itu adalah kita harus melakukan berbagai tindakan-tindakan, melakukan perubahan-perubahan, restrukturisasi, re-engeneering, merekayasa kembali propek bisnis dan sebagainya, dan juga merekayasa kembali pola pikir. Ya, jadi aspek fundamental yang kita rekayasa lagi adalah pola pikir.Karena misalnya di bagian paling hilir, dulu kita cuma distributor barangnya pemerintah. Mau laku berapa kita gak ada urusan, kita mau distribusi berapa itu barangnya pemerintah. Kan gitu. Sekarang kita harus benar-benar menjual sesuai target. Karena kalau angka penjualannya dibawah itu kita rugi. Gak dapat pendapatan.Dulu orang kita gak ngerti apa itu pendapatan, revenue itu kurang paham, kita harus berjuang untuk memasarkan itu. Orang gak paham. Tapi sekarang concern begitu dikasih target ada beberapa yang gamang.Kan gitu. Apa artinya nih? Itu aspek mendasar, budaya kerja. Kita harus mendorong, ciptakan sistem sehingga budaya kerjanya berubah.Apakah perubahan budaya kerja ini hasilnya sudah kelihatan ?Sudah, sudah banyak sekali perubahan. Karena banyak aturan-aturan yang kita ubah. Ada aturan perjalanan, sampai aturan perjalanan pun kita ubah. Supaya mencerminkan, seperti perusahaan-perusahaan lain, dong. Kalau dulu lebih banyak mengikuti pola perjalanan dinas departemen pemerintah.Sekarang gak bisa dong. Harus sesuai dengan konsep bisnis. Harus efisien. Jadi pola-pola pikir, pola-pola tindaknya harus diubah. Dalam melakukan perubahan budaya kerja, apakah ada resistensi darikaryawan ?Ada! banyak! Sekarang misalnya dulu kita terkenal dapat bonus, dapat insentif. Seolah insentif itu sudah otomatis, tahun-tahun sebelumnya. Kalau sudah dikatakan dua bulan gaji dapat insentif dua bulan gaji.Sekarang, meskipun dianggarinnya empat bulan gaji, belum tentu dapat empatbulan gaji. Tergantung dong, tercapai gak targetnya. Kalau targetnya gaktercapai ya gak bisa dong. Wah, itu ada yang protes, tapi ya gak bisa. Kita harus konsisten, banyak target yang gak tercapai kok.Lalu sejauh ini bagaimana penerimaan karyawan pada kebijakan baru tersebut ?Ya, semua boleh dikatakan mulai menyadari bahwa Pertamina memang harus melakukan perubahan-perubahan. Maka itu selalu saya tekankan dalam setiap kesempatan sosialiasai. Kita nih kan harus survive di masa depan, kilang kita harus survive.Sistem kita, pompa bensin harus surive, kalau gak gimana? Gak bisadong pompa bensin pakai pola lama. Kumuh, orangnya gak pakai seragam, mejanya meja kayu, giliran ngembaliin uang, uangnya dekil-dekil, jelek-jelek. Mau isi "eh, kurang setengah liter' 'ah, kaya gak tahu aja, kan gak ngasih tips saya". Ya saya terus terang saja, pompa bensin banyak yang seperti itu.Nah, kalau orang masuk pompa bensinnya Petronas, Shell, kaget. Disapa cewek-cewek "selamat pagi pak, bapak mau isi apa? segini lho pak, kalau ngisi" ya kan? spesial ngembaliin pakai uang-uang yang baru, tukar dulu ke bank.Kan mesti diubah yang seperti itu. Karena itu untuk melakukan perubahan itu tidak hanya dengan coaching, training, tapi dengan melakukan perubahan secara nyata. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads