Wawancara Khusus Dirut Pertamina (3)
Menyulap Kilang-kilang Unggulan
Selasa, 02 Jan 2007 12:26 WIB
Jakarta - Salah satu penyebab rendahnya produksi minyak Indonesia adalah karenabelum maksimalnya kilang-kilang milik Pertamina yang ada.Akibatnya, target produksi minyak 2006 yang ditetapkan dalam APBN sebesar1.050.000 barel per hari juga sedikit tidak tercapai.Pertamina pun kini berupaya keras melakukan investasi kilang dan memperbaiki kilang-kilang lama. Pendanaan diharapkan tidak menjadi masalah setelah Pertamina merampungkan laporan keuangan 2004 dan 2005 dan 2006.Untuk mengetahui rencana Pertamina 'menyulap' kilang minyaknya menjadikilang unggulan, Tim detikFinance Maryadi, Irna Gustiawati dan Alih Istik Wahyuni, mewawancarai Dirut Pertamina Ari H Soemarno di ruang kerjanya Gedung Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta, Selasa (2/1/2007).Masalah produksi minyak sering tidak tercapai karena salah satunya kondisi kilang yang tidak maksimal. Bagaimana target produksi 2007 apakah bisa tercapai dengan kilang yang ada sekarang?Untuk hulu harus tercapai. Makanya saya minta hulu berjuang mati-matian agar tercapai dengan segala effort. Tapi supaya itu berlaku dengan cepat, hulu butuh teknologi. Butuh keterampilan, skills, sumber daya manusia, dan uang yang besar. Dari keempat faktor ini yang paling gak masalah bagi kita adalah uang. Uang bisa kita cari karena revenue kita gede.Tapi dari segi teknologi, skills, dan sumber daya manusia, ini yang jadi masalah. Nah, inilah mengapa kita kerjasama dengan orang-orang yang memang punya itu, ya perusahaan-perusahaan besar. Itu yang kita tekankan. Makanya sekarang kita mengutamakan kerjasama dengan perusahaan tingkat nasional (di dunia). Kaya Star Oil dari Norwegia, perusahaan paling gede nomor 40 di dunia. Dengan Sinopec dari Cina, Cina itu perusahaan minyak nasional yang paling gede. Di daftar Fortune 500 itu nomor 20 yang paling besar, kita juga kerjasama dengan Petronas.Jadi kita saling tukar pengalaman, saling ngisi, karena perusahaan (yangberstatus) nasional lebih punya perasaan yang sama untuk saling mengisi dibanding perusahaan multinasional, seperti ExxonMobile, Shell, BP dan lainnya mereka kan 100 persen tujuannya untuk profit. Sedangkan perusahaan minyak nasional seperti Petronas, Star Oil, itu lebih punya pengertian terhadap kita, karena mereka lebih punya posisi yang sama dengan kita. Nah, kita sudah mengadakan beberapa nota-nota kesepahaman yang kita sekarang sedang kerjakan untuk eksplorasi-eksplorasi di hulu.Untuk peningkatan produksi, apakah ada pola-pola untuk mengubah Technical Assistance Contract (TAC) ?Bukan, gini semua yang ada sekarang, Pertamina punya wilayah kerja 140 km persegi di Indonesia dan itu termasuk juga TAC-TAC yang ada 33 itu. Ya kan? Pola TAC itu, terus terang saja diberikan karena katanya Pertamina jangan mengolah sendiri, bagi-bagi sama yang lain. Untuk mengembangkan potensi nasional apakah segala macam. Sekarang potensi minyak itu, siapa sih yang paling tahu minyak selain Pertamina? Kok diberikan ke orang lain yang kurang tahu, itu saja polanya sudah tanda tanya. Nah, itu saya gak tahu. Sebelum zaman saya kan.Dulu begitu, tapi kita gak perlu memperdebatkan lagi karena sudah kejadian. Sekarang bagaimana kedepannya. Banyak diantara TAC-TAC ini, partner dengan perusahaan-perusahaan demikian, gak maju-maju. Banyak yang gak produksi, ada yang produksinya dikit-dikit malah. Nah tapi kontraknya pun, kita harus lihat kontraknya juga. Karena gak gitu mudah untuk keluar begitu saja. Tapi biar gimanapun, Pertamina harus mencari jalan keluarnya sehingga ini bisa diaktifkan, ditingkatkan produksinya. Tapi mungkin bukan TAC-TAC nya saja. Tapi dari 140 km persegi itu, yang terdiri dari 70-80 daerah itu.Apakah itu berarti yang harus digarap 70-80 wilayah itu ?Itu sudah digarap. Lapangan-lapangan tua dialihkan. Sekarang kita perlureevaluasi lagi yang mana yang perlu kita lakukan. Banyak diantaranya yang masih produktif seperti Cepu. Itu lapangan tua, begitu dieksplorasi lagi ternyata masih ada.Contoh kedua adalah lapangan yang baru di Pondok Tengah, Bekasi hanya kira-kira satu jam atau 45 menit dari kantor pusat. Itu begitu dieksplorasi lagi, ternyata masih banyak cadangannya. Sekarang kita sudah percepat, ternyata mampu tahun ini sudah produksi 4.000 barel. Padahal tahun lalu belum ada produksinya, tahun 2007 akan bisa 16.000, tahun depannya lagi bisa 32.000 barel.Bayangin, nah ini kalau kita mau dan mampu, sebenarnya bisa. Sekarang kita lagi lihat-lihat aset-aset mana yang bisa digitukan. Tapi kembali, SDM kita cukup gak? Sekarang cari orang-orang di bidang itu susahnya bukan main. Orang Indonesia saja susah. Di Timur Tengah saja berapa orang Indonesia yang kerja disana. Ahli-ahli dan insinyur sekarang baru lulus dari ITB saja sudah laku-laku. Belum teknologinya.Kita masih banyak ketertinggalan dari teknologi. Karena apa? karena dimasa lalu, zaman orde baru, kebijakannya adalah "ah, sudahlah biar orang luar saja yang ngerjain. Pertamina gak usah ngerusuhin uang saya. Uang pemerintah" gitu dulu. Jadi, kemampuan dan keahlian kita pun tidak terlatih selama sekian tahun. Jadi kita mengahdapi kendala itu.Jadi sekarang balik ke strategi saya itu, kita harus cari kerjasama dengan orang yang punya skills, teknologi. itulah yang kita gandeng sekarang dari beberapa pihak. Kita harapkan 2007 ini banyak yang sudah terealisasi mulai dari pekerjaannya.Bagaimana upaya manajemen meningkatkan kemampuan teknologi karyawan Pertamina ?Total karyawan secara langsung 22.000 orang. Itu yang bekerja langsung diPertamina belum yang outsourcing, kontrak, dsb, itu juga masihbanyak.Untuk meng-up grade kemampuan mereka pertama, memberi training, pelatihan dan pembelajaran dengan baik, tapi juga memiliki sistem kerja, bisnis proses yang baik. Sehingga orang bisa lihat, kalau kita sudah melaksanakan kerja kita secara profesional.Di lain pihak, dari 22.000 karyawan itu itu rata-rata pekerjanya berumur 46 tahun. Seperti saya yang menua, 57 tahun. Jadi ini salah satu alasan mengapa kita melakukan rekrutmen lebih dari 400 orang sarjana, ada yang D3, SMA untuk operator. Bertahap, kita dorong pekerja yang usianya masih muda itu dengan training. Di dorong keatas, agar bisa mengambil tanggungjawab kepemimpinan. Dengan jumlah karyawan yang banyak, ada omongan, Pertamina terbebani dengan itu. Terlalu banyak di satu bidang, kurang di bidang lain. Gak merata.Karyawan yang paling banyak dibidang apa ?Tenaga-tenaga penunjang seperti administrasi, kantor pusat. Tapi disamping itu, tenaga-tenaga teknis, operator kilang, tenaga pemasaran kurang. Nah,itu bagian dari restrukturisasi. Semua itu harus mengindikasikan itu. Kita banyak bikin program, kita dorong, training-nya kita intensifkan, anggaran training-nya kita tingkatkan lipat gandakan bahkan.Salah satu proyek transformasi adalah pembangunan kilang, pernah ada rencana kerjasama dengan Sinopec Cina lalu dari Timur Tengah, namun belakangan gagal. Bagaimana ?Ya kita kan menandatangani nota-nota kesepahaman untuk kerjasama untukkilang baru, sekarang keekonomian marginnya tipis. Ini yang bikin masalah. Untuk mengatasi itu Sinopec minta ada insentif tertentu. Khususnya dari pemerintah, insentif pajak lah, investasi, dsb. Tapi sekarang belum ada, karena itu aneh. Di aturannya itu ada insentif untuk manufakur, tapi untuk kilang gak ada di dalam daftar itu.Kilang ini jangan dianggap sebagai investasi yang menghasilkan margin yang gede. Karena sekarang, pasar konstruksi bukan main mahalnya. Harga kilang yang diestimasi tahun 2004 bisa US$ 1,5 miliar sekarang paling gak butuh uang US$ 3,5 miliar naik 40%. Karena semua orang pada bangun, kontraktor bukan main, harga peralatan juga. Belum tentu kontraktornya mau, yang besar-besar sekarang kerjaannya numpuk di Cina dan Timur Tengah.Untuk pembangunan kilang kenapa tidak menggandeng investor lokal?Siapa yang mampu? karena marginnya kecil mending investasi beli apartemen. Ini jadi masalah untuk kilang,infrastruktur, pabrik pengolahan minyak, susah berharap dari dalam negeri. Perlu investasi yang besar sekali.Hubungan Pertamina dengan pemain asing sejauh ini bagaimana? Kenapa sering timbul masalah seperti Exxon di Cepu, ini kan bisa menghambat produksi minyak ?Pertamina itu partner, masalahnya bukan dengan Pertamina, tapi pengaturan dengan pemerintah. Misalnya di Natuna, Exxon punya 76%, kita 24%. Kita berdua, operatornya Exxon. Pemerintah memutuskan kontraknya dengan Natuna dah habis. Kalau sudah habis, kita bilang terserah pemerintah. Tapi kita siap. Kita minta kedepannya share kita juga 24%, atau lebih, karena kita juga mengeluarkan duit banyak disitu. Sekarang salah satu opsi pemerintah diserahkan ke Pertamina semua, siap!Sekarang tentang Cepu, urusan ruwet dari lama karena urusan dengan TAC.Pemerintah memutuskan itu dikelola Pertamina dan Exxon, masing-masing 45%, 10% untuk pemda dengan system joint operation. Kita sih boleh dikatakan gak ada perselisihan dengan perusahaan asing. Itu kaitannya dengan perjanjian dengan pemerintah. Kalau disektor hilir, kita bersaing habis-habisan dengan perusahaan asing. Untuk jual ke industri, khususnya dengan Petronas dan BP.
(ir/qom)











































