Ekspor Teh RI Terus Merosot
Rabu, 10 Jan 2007 16:55 WIB
Jakarta - Ditengah meningkatnya konsumsi teh dunia, pangsa pasar ekspor teh Indonesia justru mengalami penurunan.Pangsa pasar teh RI merosot dari 10,8 persen pada 1993 menjadi 6,5 persen di tahun 2006. Sementara konsumsi teh dunia meningkat dari 2,5 juta ton pada tahun 1990 menjadi 3,2 juta ton pada tahun 2005. Harga teh juga terus naik mencapai 150,3 sen US$ per kilogram pada tender teh Rabu ini (10/1/2007).Demikian dikatakan oleh Ketua Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Insyaf Malik dalam sambutannya di acara tender teh perdana di Hotel Sahid, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (10/1/2007).Menurut perkiraan ATI, konsumsi teh dunia akan terus meningkat karena sejumlah faktor seperti, upaya promosi di berbagai negara importir maupun produsen. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap teh sebagai minuman menyehatkan. Peningkatan populasi dan daya beli masyarakat di wilayah Asia, Eropa Timur dan Afrika."Sangat disayangkan, perkembangan ekspor teh Indonesia terus menurun dari 123.900 ton pada 1993, menjadi 88.175 ton pada 2003 dan turun lagi dibawah 100 ribu ton pada tahun 2006," jelas Insyaf.Turunnya ekspor teh ini karena adanya hambatan non tariff barrier atau aturan standar internasional. Aturan itu seperti ketentuan maksimum residu pestisida, ethical tea partnership, pemenuhan internasional phitosanitary standard for wood packaging ISPM 15, bioterorism act.Devisa dari teh peda tahun 2005 mencapai US$ 122 juta.Insyaf menjelaskan, berdasarkan ramalan dari BMG pada tahun 2007 kemungkinan besar tidak akan terjadi kemarau panjang, sebagaimana terjadi di 2006. Terutama di Jawa Barat sebagai sentra produksi teh dipekirakan curah hujan akan mencapai 60 mm per bulan."Kita berharap produksi teh Indonesia 2007 mampu mencapai target 165 ribu ton. Musim kemarau di 2006 membuat produksi BUMN sepanjang 2006 hanya mencapai 69 ribu ton ini 79 persen dari produksi 2005," katanya. Dengan asumsi produksi perkebunan swasta dan rakyat sama maka total produksi Indonesia pada 2006 mencapai 142.100 ton ini turun 14 persen dari 2005.
(arn/ir)











































