Industri Keuangan dan Persewaan Terparah Kena Dampak Banjir
Selasa, 06 Feb 2007 16:55 WIB
Jakarta -
Industri keuangan dan persewaan diprediksi mengalami kerugian yang paling parah akibat banjir. Jika banjir terus mendera 70 persen wilayah Jakarta, maka dalam seminggu industri keuangan dan persewaan bisa mengalami kerugian hingga Rp 1,846 triliun.Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Selasa (6/2/2007)."Ini semacam quick countnya Greenomics. Industri keuangan itu kan misalnya asuransi. Kerugian itu timbul dari banyaknya klaim yang diajukan. Perbankan juga mengalami kerugian," ujarnya.Industri lain yang terkena dampak yakni industri pertanian, peternakan, perikanan mengalami kerugian Rp 6,1 miliar. Industri pengolahan rugi Rp 808,4 miliar. Sektor listrik, gas dan air bersih rugi Rp 74,7 miliar. Sektor bangunan rugi Rp 531,7 miliar. Sektor perdagangan, hotel dan restauran rugi Rp 1,278 triliun. Sektor transportasi dan komunikasi rugi Rp 551,9 miliar. Sektor jasa mengalami kerugian Rp 754,4 miliar. Dan biaya kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan (opportunity loss) mencapai Rp 1,462 triliun.Dari keseluruhan sektor, jika Jakarta dalam waktu seminggu terus didera banjir, maka kerugian bisa mencapai Rp 7,3 triliun. Nilai kerugian tersebut berarti hampir 1,7 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta."Ini peringatan keras secara ekonomi. Perekonomian Jakarta sangat sensitif terhadap gangguan banjir. Gangguan banjir jelas menghambat pertumbuhan sektor ekonomi tersebut," tandasnya.Elfian menambahkan, bila dihitung per hari, delapan sektor usaha tersebut bisa mengalami kerugian sebesar Rp 1,2 triliun per hari.
(ddn/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































