RI Tak Berminat Ikut Kartel Gas
Kamis, 08 Feb 2007 17:34 WIB
Jakarta -
Pembentukan kartel gas yang diusulkan Rusia dan negara-negara produsen gas dikhawatirkan tidak efektif dalam mengontrol harga gas.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyangsikan pembentukan kartel gas tersebut. Masalah geografis akan menjadi penghambatnya. Pasalnya, secara geografis negara-negara penghasil gas besar di dunia seperti Australia, Rusia, Indonesia, dan Amerika Latin letaknya tersebar di beberapa wilayah. Ini berbeda dengan letak negara-negara penghasil minyak besar di dunia yang terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah."Gas lain dengan minyak. Minyak terkonsentrasi di Middle East jadi memang begitu mudah membentuk OPEC karena geografinya terkonsetrasi. Tapi gas dimana-mana ada," kata Purnomo, usai mendonorkan darahnya di Kantor ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (8/2/2007).Purnomo juga menegaskan kebijakan pemerintah yang akan memaksimalkan pemenuhan kebutuhan gas domestik. Jika Indonesia bergabung dengan sebuah organisasi gas, dikhawatirkan ada kewajiban kuota gas yang harus diekspor. Hal ini tentu bisa mengurangi pasokan gas untuk dalam negeri."Karena sebetulnya (kartel gas) akan efektif untuk memenuhi kebutuhan dunia tapi sekarang banyak juga yang digunakan untuk memenuhi domestik dan regional," ujarnya.
(lih/ir)










































