Lonjakan Harga Beras Juga 'Menular' ke Daerah
Selasa, 13 Feb 2007 15:46 WIB
Jakarta - Selain Jakarta, lonjakan harga beras juga merebak ke sejumlah daerah di Indonesia. Setelah Bandung, Semarang dan Pekanbaru juga mengalami lonjakan makanan pokok ini.Di Pekanbaru, harga beras rata-rata naik hingga 10 persen. Pedagang mengaku, dalam dua pekan ini berbagai jenis beras yang datang dari provinsi tetangga mengalami kenaikan hinga 10 persen. Kenaikan harga beras ini dalam hitungan dua bulan terakhir mengalami kenaikan dua kali. Sekitar dua bulan silam, beras khusus yang datang dari Sumbar mengalami kenaikan hingga 10 persen. Alasannya, jalur transportasi jalan lintas Pekanbaru-Sumbar sempat terputus. "Waktu jalan lintas diperbatasan Riau dan Sumbar terputus, memang harga beras sempat naik. Namun ketika jalan lintas tersebut sudah bisa dilalui, harga beras khusus datang dari Sumber kembali normal," kata Husein salah seorang pedagang Sembako di Panam, Pekanbaru kepada detikFinance, Selasa (13/2/2007). Namun dua pekan terakhir ini, harga beras kembali naik hingga 10 persen. Tapi para pedagang tidak mengetahui alasan soal kenaikan harga beras tersebut. Kali ini berbagai jenis beras baik yang datang dari Sumbar, Sumut dan Sumsel semuanya mengalami kenaikan secara serentak. Bila sebelumnya harga beras Sumsel rata-rata dijual Rp 6.000/kg, kini para pedagang harus menaikan harga menjadi Rp6.600/kg. Begitu juga harga beras asal Sumbar juga mengalami kenaikan yang sama. "Kalau sebelumnya harga beras asal Sumbar paling murah Rp5.000/kg, kini kita terpaksa menjualnya menjadi Rp 5.500/kg. Setiap kali kita tanyakan pada grosir beras, mereka menyebut harga memang naik. Jadi ya kami pedagang ini turut menaikan juga," kata Husein. Sementara di Semarang, harga beras juga naik drastis karena adanya pembelian besar-besaran dari pedagang luar daerah. Dalam pantauan detikFinance di Pasar Induk Dargo Semarang, Selasa (13/2/2007), beras jenis Mentik Wangi dijual Rp 6.700 per kg dari sebelumnya hanya Rp 6.200/kg, Membramo naik jadi Rp 5.800/kg dari sebelumnya Rp 4.800/kg, C4 Super naik menjadi Rp 5.500 dari semula Rp 5.000, Cisadane atau C4 biasa menjadi Rp 5.300-Rp 5.400 dari semula Rp 4.900. Harga itu untuk grosir, untuk eceran biasanya harganya ditambah 5 persen. Para pedagang menduga kenaikan tersebut dikarenakan ada pembeli luar daerah seperti Jakarta dan Jawa Barat memborong beras. Sehingga pasokan langsung berkurang drastis dan mengakibatkan harga beras juga meningkat. "Tapi dua hari lagi kemungkinan stok beras datang. Harga bisa saja kembali stabil. Kalau tidak begitu ya menunggu panen Maret mendatang," kata salah satu pedagang yang ditemui di kiosnya, Jalan Dargo. Di Pasar Peterongan Semarang harga beras juga tak jauh berbeda. Namun di sejumlah kios, pedagang memasang angka lebih tinggi dibanding harga di Pasar Dargo. Beras jenis Mebramo, misalnya, dipatok seharga Rp 6.500 per kg. Kenaikan harga beras itu 'memaksa' wakil rakyat turun lapangan. Selasa (13/2), Komisi B DPRD Jawa Tengah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Dargo. Mereka hendak mengetahui secara langsung penyebab naiknya harga. Sementara, berdasarkan data Badan Bimbingan Massal dan Ketahan Pangan Provinsi Jateng, stok beras cukup untuk dikonsumsi hingga April 2007 mendatang. Hal ini disebabkan pada tahun 2006, Jateng mengalami surplus beras 1,6 juta ton.
(qom/qom)











































