Exxon Minta Kewajiban ke Pasar Domestik Ditangguhkan
Jumat, 30 Mar 2007 14:09 WIB
Jakarta - Exxon Mobil Cepu Ltd (MCL) meminta pemberlakuan Domestic Market Obligation (DMO) dari Blok Cepu, Jawa Timur ditangguhkan. Seharusnya DMO mulai diberlakukan saat lapangan berproduksi, namun MCL minta DMO dihitung saat produksi mencapai puncaknya. Hal ini disampaikan Kepala BP Migas Kardaya Warnika saat jumpa pers di kantornya, Jl Gatot Subroto hari ini Jumat (30/3/2007). "Exxon (induk perusahaan MCL) meminta kalau produksi tetap bertahap, tapi start perhitungan DMO waktu full scale," ujarnya. Padahal, seharusnya DMO diberlakukan saat produksi awal dimulai selama 60 bulan. Penundaan pemberlakuan DMO ini merupakan insentif yang diminta MCL terkait percepatan produksi yang diminta BP Migas. Selama ini terjadi perundingan antara BP Migas dan MCL soal waktu produksi minyak Blok Cepu. MCL menawarkan produksi dilakukan setelah semua fasilitas pendukung seperti pipa selesai, kira-kira pada 2010. Rencananya produksi akan langsung digenjot hingga 180.000 bph. Sedangkan BP Migas meminta produksi dipercepat, walau pembangunan fasilitas belum selesai pada 2008. BP Migas lalu menyarankan untuk menggunakan fasilitas bersama, yaitu pipa milik PetroChina. Dengan percepatan ini volume yang bisa dialirkan memang lebih sedikit, sekitar 10.000 bph. Kardaya melanjutkan, kini pihaknya sedang menggodok usulan yang diajukan MCL itu. Setelah diperhitungkan, maka akan dibawa ke presiden. DMO merupakan kewajiban Kontraktor Kontrak Production Sharing untuk menjual 25% bagian hasil produksinya untuk pasar dalam negeri. Bagian ini akan dijual seharga 10% harga Indonesia Crude Price (ICP). Produksi minyak biasanya akan menurun setelah mencapai peaknya. Sehingga jika DMO diberlakukan 60 bulan mulai masa peaknya, maka DMO KKKS akan semakin mengecil. Sedangkan jika DMO diberlakukan pada awal produksi, maka DMO akan semakin membesar sesuai produksi yang menuju puncak.
(lih/qom)










































