Bank Dunia: Ekonomi RI Hanya Tumbuh 6,5% Tahun 2008
Kamis, 05 Apr 2007 13:26 WIB
Jakarta -
Jika pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi 6,8 persen tahun 2008, maka Bank Dunia punya itungan sendiri. Bank Dunia memroyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2008 hanya 6,5 persen.Hal tersebhut disampaikan Milan Brahmbhatt, Principal Author East Asia and Pacific Regional Update The World Bank di Tokyo Development Learning Center, Jepang, melalui teleconference yang diadakan oleh Bank Dunia bersama cabang Bank Dunia di regional Asia Tenggara dan Pasifik, Kamis (5/4/2007). "Saya kira pertumbuhan ekonomi di Indonesia di 2008 akan lebih tinggi dibandingkan 2007 yang sebesar 6,3% yaitu sebesar 6,5%. Dan hal ini cukup masuk akal, karena perekonomian Indonesia mulai berbalik arah ke atas dan hal ini positif, apalagi kita lihat pertumbuhan ekspor di 2006 lalu sangat baik," ujarnya. Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia William Wallace menambahkan, target pertumbuhan tahun 2008 yang lebih rendah dari proyeksi pemerintah sebesar 6,8 persen karena masih tingginya angka kemiskinan."Hal ini karena masih tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia akibat harga pangan terutama beras, dan hal ini besar dampaknya kepada kemiskinan," jelasnya. Selain itu, menurut Wallace, belum terealisasinya pembangunan infrastruktur juga menjadi penghambat pertumbuhan industri di Indonesia. "Banyak kalangan pengusaha yang mengeluhkan lambatnya jalur distribusi di Indonesia," ujarnya. Wallace menyimpulkan, beberapa hal yang harus ditingkatkan dan diperhatikan oleh pemerintah adalah kebijakan harga mekanan untuk menjaga inflasi, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, infrastruktur untuk industri. "Pemerintah juga harus bekerjasama dengan pihak swasta untuk peningkatan perekonomian dan juga pemerintah harus memfasilitasi kepindahan penduduk dari desa ke kota agar produktivitas Indonesia meningkat seperti di Cina, jadi kita lihat pada bulan Oktober atau November target siapa yang benar kita atau pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi ini," ujarnya. Sementara untuk pertumbuhan ekspor non-migas, Wallace mengatakan bahwa ekspor non-migas Indonesia di tahun 2007 akan berjalan lambat dibandingkan pertumbuhan di 2006. "Pertumbuhan ekspor non-migas 2006 adalah sebesar 19,7%, sedangkan di 2007 akan melambat menjadi 9-10%, hal ini akibat adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi global khususnya AS yang menjadi penyetir utama perekonomian global, dan regional Asia akan melindungi wilayahnya agar tidak terkena dampak itu, dan hal ini akan berpengaruh kepada peningkatan ekspor Indonesia yang sebagian komoditinya diekspor ke regional luar Asia," jelasnya. Walaupun begitu, Wallace mengatakan bahwa Indonesia perlu menggali lebih dalam komoditi-komoditi ekspor non-migas. "Indonesia bisa mengembangkan komoditi pertambangan atau CPO (Crude Palm Oil)," imbuhnya. Selain itu, kembali lagi ke infrastruktur yang perlu dibenahi, karena lambatnya jalur distribusi khususnya ke pelabuhan Tanjung Priok. "Saya kira pemerintah harus serius dalam hal ini, dan diperlukan waktu 2-3 tahun untuk infrastruktur ini," ujarnya. Sementara untuk investasi, Wallace mengatakan pertumbuhan investasi di 2007 akan sebesar 11,7% sementara di 2008 akan menurun menjadi 9,3%. "Pertumbuhan investasi 2007 akan tinggi karena adanya dukungan dari investasi pemerintah yang akan cukup tinggi di tahun ini dan juga dari sektor publik, sementara di 2008 akan menurun karena hanya didorong dari investasi pada sektor swasta dan berkurangnya investasi pemerintah," ujarnya.Selain itu, Milan mengatakan bahwa Paket Kebijakan Pemerintah untuk memperbaiki iklim perekonomian sepanjang ini sudah dalam jalur yang benar. "Sekarang tinggal melanjutkan apa yang diperoleh setelah krisis, sekarang jadinya membangun momentum, dan menodorong pertumbuhan ke yang lebih tinggi serta menyelesaikan ketidakadilan," imbuhnya.
(dnl/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































