Rupiah Menguat 1 Persen, Inflasi Turun 0,07 Persen
Senin, 21 Mei 2007 14:40 WIB
Jakarta - Apresiasi rupiah dalam jangka pendek diyakni Bank Indonesia (BI) akan membawa perbaikan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. "Satu persen apresiasi rupiah akan menyebabkan 0,05 persen pertumbuhan ekonomi, dan 0,07 persen penurunan tekanan inflasi," kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom, dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (21/5/2007).Miranda menjelaskan pertumbuhan ekonomi bisa naik karena beberapa faktor. Investasi dan penguatan rupiah mempunyai konotasi perbaikan indikator ekonomi secara keseluruhan yang merupakan indikator utama dalam perekonomian suatu negara. "Sehingga kita harapkan rating lebih baik, sentimen lebih baik," cetus Miranda. Secara jangka pendek, tegas Miranda, penguatan rupiah memang bagus. Namun dampaknya secara jangka panjang akan tergantung pada respons. Misalnya saja jika direspons dengan baik oleh pengeluaran pemerintah, pengeluaran perusahaan dan infrastruktur semakin baik."Sehingga dalam jangka panjang suplai akan bertambah banyak. Maka dalam jangka panjang ekspektasi inflasi akan turun, kalau demand naik dan suplai juga, maka tidak akan menyebabkan tekanan harga," urainya. Diakui Miranda, BI memang tidak memiliki target volatilitas rupiah. "Tetapi kita menjaga agar nilai tukar tidak terlalu volatile, karena ini menimbulkan ketidakpastian dan ini tidak baik. Itu sebabnya terkadang BI masuk pasar untuk mengurangi volatilitas," kata Miranda.
(ir/qom)











































