Harga Gas Maksimal Naik 5%

Harga Gas Maksimal Naik 5%

- detikFinance
Rabu, 23 Mei 2007 16:10 WIB
Jakarta - Industri keramik keberatan atas rencana PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menaikkan harga gas hingga 10 persen. Pengusaha keramik hanya mentolerir kenaikan harga gas maksimal 5 persen. Tapi itu pun dengan catatan naiknya tidak tahun ini.Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia(ASAKI) Ahmad Wijaya di sela-sela acara pameran produk Interior & Craft (ICRA 2007) di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (23/5/2007)."Gas gak boleh naik. Harga sekarang US$ 5 dan hampir belum mendapatkan fasilitas yang baik, baik sisi kualitas dan kuantitas. Sejak 3 tahun terakhir, kerugian industri tidak pernah diakomodasi oleh PGN sehingga kita paling bisa kalau mau naik, kita bicarakan untuk tahun depan saja. Jaditidak untuk tahun ini," ujarnyaIndonesia saat termasuk produsen gas terbesar dalam daftarnya OPEC. Namun harga gas di Indonesia lebih mahal daripada Malaysia."Kenapa kita lebih mahal? Karena tetangga kita yang punya pabrik keramik itu mereka cuman bayar 3,5 dolar untuk gasnya. Thailand, mereka masih di bawah kita sekitar 4,2 dolar," ujar Ahmad.Menurutnya kenaikan harga gas oleh PGN harus melalui kontrol BPH Migas. "Jadi seperti jalan tol dimana Jasa Marga tidak bisa seenaknya menaikkan harga," ujarnya.Ekspor Keramik MandekBeralih ke soal lain, ekspor keramik saat ini menjadi terganggu karena tidak jelasnya pasokan gas ke industri keramik sejak awal 2007."Ekspor kan kita terima ordernya 3-4 bulan yang lalu. Jadi artinya, April-Juni tidak bisa terima order banyak karena pasokan gas tidak menjamin sampai hari ini. Plus, ada beberapa rekanan kita dari Grup Gede, seperti Kedaung itu dibatalin ordernya. Dia kena penalti oleh Inggrisbkarena tidak suplai," ungkapnya.Pada tahun 2006, ekspor mencapai US$ 225 juta USD atau sekitar 50 US$ per triwulannya. Namun pada triwulan I-2007 ini, ekspor tidak menembus angka US$ 25 juta USD saja karena pembatalan order akibat tidak adanya jaminan pasokan gas."Produsen yang paling terganggu untuk tableware adalah Kedaung dan Royal Doulton yang ekspor ke Inggris. Dua perusahaan ini sudah mengalami kerugian besar," tambah Ahmad. (arn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads