Mendag Sebut Waralaba Lokal Lebih Banyak, tapi Merek Asing Lebih Populer

Mendag Sebut Waralaba Lokal Lebih Banyak, tapi Merek Asing Lebih Populer

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 29 Agu 2025 13:42 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso
Menteri Perdagangan Budi Santoso/Foto: Retno Ayuningrum/detikcom
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah bisnis waralaba di Indonesia didominasi asing. Pernyataan tersebut sebelumnya disampaikan oleh Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar.

Budi menilai bisnis waralaba lokal lebih banyak dibandingkan dengan merek asing. Namun, ia mengakui waralaba asing lebih populer dan dikenal daripada waralaba lokal.

"Kalau menurut data yang terdaftar, (bisnis waralaba lokal) lebih banyak, masih banyak waralaba lokal dibanding waralaba asing, tapi mungkin, ya kadang-kadang kalau saat berbicara tentang keusahaan, waralaba asing itu lebih ramai," ujar Budi dalam acara Opening Ceremony the 24th International Franchise, Licence, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2025 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Waralaba dinilai menjadi salah satu cara mudah untuk menciptakan wirausahawan baru di Indonesia. Sebab, saat ini rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,1%, padahal di negara maju 10-12%.

ADVERTISEMENT

Menurut Budi, waralaba menjadi salah satu bisnis usaha yang mudah bagi wirausahawan baru. Selain itu, waralaba juga mempunyai banyak kelebihan lantaran model bisnis dan manajemennya sudah jelas. Dengan begitu, pelaku usaha tidak perlu memikirkan ide bisnis dari nol.

"Ya persyaratan untuk menjadi waralaba atau mewaralabakan produknya pun juga tetap. Artinya, bapak/ibu tidak perlu ragu-ragu bagi teman-teman entrepreneur muda yang ingin berusaha, dan cost-nya sebenarnya malah lebih murah," terangnya.

Pemerintah aktif mengembangkan ekspansi merek Indonesia ke luar negeri. Budi menyebut lintas kementerian, mulai dari Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN, Pariwisata, Kementerian UMKM, hingga Kementerian Ekonomi Kreatif bekerja sama mengenalkan restoran, produk kuliner, serta budaya Indonesia ke mancanegara.

Saat ini, sejumlah waralaba lokal sudah merambah ke negara lain, seperti Filipina dan Bangladesh. Pemerintah juga membuka peluang bagi pelaku waralaba menjadi perwakilan dagang Indonesia di luar negeri.

"Nah waralaba yang ingin melakukan survei atau ingin mencari market di luar negeri, boleh kita kasih kesempatan untuk magang ya di kantor ITPC di luar negeri, silakan," terangnya.

Program Business Matching

Pada saat yang sama, Budi juga menyebut program business matching yang diinisiasi pemerintah sejak Januari 2025 yang meraup transaksi hingga Rp 1,4 triliun. Program ini mempertemukan UMKM dengan buyer potensial dari luar negeri, baik secara online maupun difasilitasi perwakilan dagang Indonesia.

"Program ini berjalan sudah mulai Januari dan Januari-Juni semester I, transaksinya sudah US$ 90,04 juta, jadi sudah Rp 1,4 triliun, dan itu adalah UMKM kita yang rata-rata atau 70% itu belum pernah ekspor," terangnya.

Sebelumnya, Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyebut bisnis waralaba Indonesia masih didominasi oleh asing. Ketua AFI Anang Sukandar mengatakan, hal ini berdasarkan pengamatannya di pusat perbelanjaan Indonesia.

Merek waralaba asing sering ditemui, seperti dari China, Jepang, Korea Selatan, hingga Italia. Anang menyebut waralaba Indonesia yang terdaftar hanya berjumlah sekitar 120-130.

"Memang kita nggak terlalu happy dengan keadaan kita. Jadi, kalau kita lihat keadaan kita, ya saya nggak ikuti secara survei gitu, tapi secara estimasi saja pasar domestik kita tuh masih dikuasai oleh asing. 120-130 waralaba lokal kita, tapi yang asing tetap lebih banyak," ujar Anang dalam konferensi pers di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025).

"Saya lihat di Gancit, Gandaria City. Coba lihat mana perusahaan atau resto Indonesia tuh? Banyak kan ada dari Korea ada, Jepang ada China ada, Belanda ada, Italia ada. Indonesia cuma satu, Remboelan yang ada. Coba ya kenapa nggak kalau boleh 80% tuh Indonesia dari Banda Aceh sampai ke Manado," imbuh Anang.

Simak juga Video: Pilih Franchise Autopilot atau Reguler?

Halaman 2 dari 2
(rea/ara)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads