Miliaran Paket Murah Bakal Kena Tarif Tinggi AS, Jasa Ekspedisi Pusing!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 29 Agu 2025 14:53 WIB
Ilustrasi/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Perubahan besar akhirnya berlaku untuk seluruh barang murah yang biasa dipesan orang Amerika Serikat (AS). Selama hampir satu abad, paket bernilai rendah dari luar negeri bisa masuk ke AS tanpa bea masuk berkat aturan de minimis sejak 2015.

Ketentuan itu berlaku untuk barang di bawah US$ 800 atau sekitar Rp 13.200.000 (kurs Rp 16.500). Celah aturan ini telah mengubah pola belanja jutaan warga AS.

Aturan itu memudahkan banyak pelaku usaha kecil dari berbagai negara untuk menjual langsung ke konsumen AS, dan terutama memberi jalan bagi e-commerce murah asal China seperti Shein, Temu, dan Ali Express untuk menjual produk mulai dari pakaian, furnitur, hingga elektronik tanpa terkena bea masuk yang berlaku bagi paket di atas 800 dolar.

Namun, dikutip dari CNN, Jumat (29/8/2025), masa itu kini berakhir. Sejak lewat tengah malam waktu setempat, atau pada 29 Agustus, seluruh barang impor, tanpa memandang nilai, dikenai tarif 10-50% tergantung asal negara.

Dalam beberapa kasus, ada biaya flat sebesar US$ 80-200, tetapi aturan ini hanya berlaku sementara selama enam bulan ke depan. Penghapusan aturan de minimis dinilai bakal berdampak bagi sejumlah sektor.

Jasa Pengiriman Dibuat Sakit Kepala

Sejumlah jasa kurir di Eropa, Jepang, Australia, Taiwan, hingga Meksiko sempat menangguhkan layanan pengiriman ke AS karena persoalan teknis kepatuhan. UPS menyatakan siap menghadapi aturan baru dan tidak memperkirakan adanya antrean atau penundaan.

Sementara itu DHL, yang menghentikan sementara layanan pengiriman paket standar dari Jerman, menegaskan tetap melayani pengiriman dari negara lain meski memperingatkan potensi keterlambatan di masa transisi.

US Postal Service dan FedEx memilih tidak berkomentar soal kemungkinan keterlambatan. Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS memastikan sistem mereka siap sepenuhnya dan telah menyiapkan strategi komprehensif, termasuk memberi panduan ke mitra rantai pasok serta operator pos asing agar aturan baru bisa dijalankan tanpa hambatan.

Susan Thomas, pejabat pelaksana Wakil Eksekutif Komisioner CBP Bidang Perdagangan, mengatakan bahwa sistem agensi tersebut sudah sepenuhnya diprogram dan siap mendukung penerapan aturan baru tanpa hambatan.

Angin Segar Bagi Bisnis Kecil di AS

Selama ini, tidak sedikit bisnis kecil ikut menikmati aturan de minimis dengan memesan barang impor tanpa bea masuk. Namun bagi sebagian lain, berakhirnya aturan ini justru membawa peluang.

Steve Raderstorf, pemilik toko perlengkapan medis Scrub Identity di Indianapolis, menilai perubahan tarif ini akan menciptakan arena bermain yang lebih adil bagi dirinya maupun pelaku usaha kecil lainnya.

Ia menyebut selama ini raksasa e-commerce seperti Amazon dan Walmart bisa meraup miliaran dolar AS lewat jaringan penjual pihak ketiga yang memanfaatkan celah de minimis, sementara bisnis kecil seperti dirinya tidak punya akses serupa.

Menurut Steve, dihapusnya aturan ini memberi kesempatan bisnis lokal untuk bersaing lebih sehat dengan ritel besar dan pada akhirnya bisa lebih berkontribusi ke komunitas sekitar

"Kalau ada warga yang datang ke toko saya dan minta dukungan sponsor untuk tim olahraga lokal, saya bisa bantu. Uangnya kembali ke komunitas. Kalau belanja lari ke China, uang itu tidak pernah kembali lagi ke Amerika," ujarnya.

Simak juga Video: LPS Sebut RI Tak Rugi soal Nego Tarif AS 19%, Ini Alasannya




(ily/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork