Separuh Multifinance di RI Alami Krisis pada 2006
Selasa, 31 Jul 2007 16:34 WIB
Jakarta - Separuh multifinance yang beroperasi di Indonesia mengalami krisis selama tahun 2006. Indikasi ini terlihat bahwa dari 214 multifinance hanya 152 perusahaan yang mengumumkan laporan keuangannya. Hal ini dikatakan oleh Direktur Biro Riset InfoBank Eko B.Supriyanto dalam jumpa pers Rating 137 Multifinance Versi InfoBank 2007 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta (31/7/2007)."Di 2006 ada 5 perusahaan multifinance yang diketahui tidak mengumumkan laporankeuangannya, dan 57 perusahaan masih dalam bentuk izin atau belum ada aktivitasnya,"tuturnya.Eko mengatakan bahwa situasi ekonomi makro yang dianggap tidak menguntungkan di 2006 menjadi salah satu penyebab penurunan kinerja multifinance di Indonesia. "Akibat kenaikkan BBM di 2005, industri multifinance mengalami penurunan laba sebesar 5,45 persen menjadi Rp 2,8 triliun dari Rp 2,96 triliun di 2005. Ini merupakan penurunan laba pertama kali sejak tahun 2001," jelasnya.Selain kenaikkan BBM, penurunan laba multifinance juga disebabkan oleh penurunandaya beli masyarakat dan tingginya tingkat suku bunga.Berdasarkan riset InfoBank tentang kinerja keuangan multifinance, hasilnya 43 multifinance berpredikat sangat bagus, 43 berpredikat bagus, 29 cukup bagus dan 20 multifinance berpredikat tidak bagus.Lima multifinance yang berpredikat sangat bagus dengan aset Rp 1 triliun keatas antara lain, BFI Finance Indonesia, Chandra Sakti Utama Leasing, Summit OtoFinance, Buana Finance dan BCA Finance.Untuk yang beraset Rp 100 miliar dan di bawah Rp 1 triliun dengan predikat sangat baik adalah Mandala Multifinance, Astrido Pacific Finance, Mandiri Finance Indonesia, HD Finance dan Surya Artha Finance.Lima multifinance yang beraset di bawah Rp 100 miliar dengan predikatsangat bagus adalah Reksa Finance, Hana Risjad Finance, AB Sinar Mas Multifinance, Artha Prima Finance dan Otomas Multifinance.
(dnl/ir)











































