EPA RI-Jepang Masih Dihadang 'Penyakit' Klasik
Senin, 20 Agu 2007 09:22 WIB
Jakarta - Hubungan Indonesia-Jepang akan segera memasuki babak baru setelah Economic Partnerships Agreement (EPA) diteken. Bakal muluskan perdagangan Indonesia-Jepang setelah EPA diteken?Jika tidak ada aral melintang, perjanjian EPA akan ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe pada Senin (20/8/2007) di Istana Merdeka.Gagasan EPA ini telah diangkat oleh kedua kepala negara pada November 2004 dan disepakati pada tingkat menteri perdagangan pada Desember 2004. Selanjutnya diadakan studi gabungan serta 3 pertemuan informal pada Desember 2004 hingga Juli 2005. Putaran negosiasi kedua negara telah digelar selama 6 kali selama Juli 2005 dan November 2006. Saat kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Jepang November 2006 lalu, pembicaraan tentang EPA sudah masuk tahap final. Hanya tinggal beberapa poin yang belum disepakati, antara lain menyangkut Daftar Negatif Investasi (DNI). Setelah pemerintah merilis DNI, maka jalan untuk penandatanganan EPA Indonesia-Jepang pun semakin mulus. Perjanjian ini sebenarnya bisa sangat menguntungkan Indonesia mengingat Jepang merupakan partner dagang terbesar dan tujuan nomor 1 untuk ekspor Indonesia.Jepang pun juga sangat diuntungkan mengingat Indonesia merupakan sumber terbesar untuk impor dari Jepang di ASEAN dan pasar ekspor yang signifikan untuk barang dari Jepang.Isi perjanjian EPA pun cukup menjanjikan. Salah satunya adalah, Jepang akan mulai terbuka bagi tenaga kerja dari Indonesia. Misalnya, para perawat-perawat Indonesia nantinya bisa dengan mudah bekerja di Jepang.Berbagai produk juga akan mendapatkan kemudahan setelah EPA ditandatangani. Terkecuali untuk produk-produk yang dikecualikan oleh kedua negara.Sayangnya, dari pemerintah belum pernah ada pernyataan berapa persisnya kenaikan angka investasi dan perdagangan jika EPA ditandatangani. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu hanya menyebutkan, bahwa beberapa negara yang telah menandatangani EPA dengan Jepang telah mengalami kenaikan angka investasi tanpa menyebutkan berapa persis angka kenaikannya. Chairman CEO Jetro, Yasuo Hayashi bahkan merasa pesimistis penandatanganan kerjasama EPA Indonesia-Jepang bisa memuluskan perdagangan dua negara itu.Beberapa hambatan dinilai masih akan menghambat aliran investasi Jepang ke Indonesia. Padahal hambatan itu sangat klasik seperti sistem ketenagakerjaan, perpajakan dan administrasi.Dengan kata lain, susah payah penyusunan EPA tidak akan ada hasil jika 'penyakit' klasik Indonesia tidak segera disembuhkan. Dan EPA pun akhirnya menjadi perjanjian 'sampah', yang lantas tinggal sejarah.
(qom/qom)











































