×
Ad

5 Pabrik Tekstil RI Tutup, PHK Tembus 3.000 Orang

Retno Ayuningrum - detikFinance
Minggu, 30 Nov 2025 16:30 WIB
Ilustrasi PHK - Foto: Freepik
Jakarta -

Pengusaha tekstil menilai industri hulu tekstil dalam negeri mengalami penurunan produksi yang signifikan. Sampai 2025, terdapat 5 pabrik tekstil yang telah berhenti produksi hingga menutup usahanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan pemutusan karyawan diperkirakan mencapai 3 ribu orang. Menurutnya, hal ini menjadi tanda deindustrialisasi terjadi di Indonesia.

"Tutupnya 5 perusahaan tersebut disebabkan kerugian serius akibat penjualan yang tidak maksimal di pasar domestik. Banjirnya produk impor dengan harga dumping berupa kain dan benang jadi faktor utama tutupnya perusahaan ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/11/2025).

"Saat ini ada 6 pabrik lainnya yang produksinya sudah di bawah 50%, bahkan sudah ada yang on-off. 5 mesin polimerisasi sudah stop, tidak produksi lagi," tambah Farhan.

Farhan memperkirakan penutupan pabrik tekstil lainnya masih dapat berlanjut pada 2026 jika pemerintah tidak bisa mengontrol dan memberikan transparansi ke publik terkait di balik penerima kuota impor paling banyak. Menurutnya, pemerintah tentu mengetahui karena setiap adanya produk impor yang masuk melalui pelabuhan besar, maka akan tercatat di dalam sistem bea cukai.

"Data itu mudah untuk didapatkan bagi pemerintah. Ini kami tinggal tunggu action-nya saja. Karena jika tidak ada tindakan korektif, 6 perusahaan lainnya akan menyusul bangkrut karena tidak bisa menjual produknya di pasar domestik. Selain itu, anggota kami tidak bisa menentukan rencana produksi di tahun depan karena tidak ada transparansi kuota impor yang diberikan pemerintah. Deindustrialisasi benar-benar terjadi," imbuh Farhan.

Farhan juga mengapresiasi tindakan Menteri Keuangan yang berkomitmen untuk menghentikan laju impor ilegal. Penyelidikan impor thrifting diyakini bisa membongkar praktik kecurangan dalam mekanisme tata niaga impor.

"Dalam impor thrifting itu bisa ketahuan siapa pengimpornya hingga backing-backing-nya. Penegak hukum juga bisa didalami siapa menyebabkan kerugian negara, kami meyakini bahwa birokrat yang terlibat sama-sama saja dan sudah terafiliasi dengan matang," jelas Farhan.

Berikut lima perusahaan yang tutup:

1. PT. Polychem Indonesia yang memproduksi tekstil di Karawang
2. PT. Polychem Indonesia di Tangerang
3. PT. Asia Pacific Fibers yang memproduksi serat polyester di Karawang
4. PT. Rayon Utama Makmur yang merupakan bagian Sritex Group yang memproduksi serat rayon
5. PT. Susilia Indah Synthetics Fiber Industries (Sulindafin) yang memproduksi serat & benang polyester di Tangerang.




(kil/kil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork