Program Konversi Elpiji di Semarang Sepi Peminat
Selasa, 04 Sep 2007 14:58 WIB
Semarang - Program konversi minyak tanah ke elpiji di Semarang, Jawa Tengah, sepi peminat. Sejumlah warga Semarang enggan menerima tabung gas elpiji dan kompornya dengan berbagai alasan. Di lokasi pertama program konversi elpiji di Semarang yaitu RW IV Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajah Mungkur, pendistribusian 83 tabung elpiji dan kompor tersendat. Selama lima jam hanya 20 orang yang telah mengambil barang-barang tersebut."Kami akan tunggu hingga pukul 21.00 WIB malam ini. Kalau tidak diambil ya sudah, nanti dibiarkan di sini dulu saja," kata petugas lapangan, Sugiyono ketika ditemui di lokasi pendistribusian, Kampung Kintelan, Kelurahan Bendungan, Selasa (4/9/2007).Di RW tersebut, terdapat 83 warga yang mendapat jatah program konversi minyak tanah ke elpiji. Rencananya, warga di kelurahan yang terbagi dalam lima RW itu akan menerima 605 tabung dan kompor elpiji.Sugiono mengatakan keengganan warga mengambil jatah kompor dan gas konversi karena beberapa alasan. "Ada yang takut, ada yang tak bisa mengopreasikan dan ada yang memang enggan menggunakan," kata Sugiono. Sugino mencatat, dalam di Kelurahan Bendungan, ada 20 warga yang menolak program konversi. "Sebagian warga memilih menerima meski tak tahu mau dibuat apa. Dijual lagi atau dipakai, ya entah," katanya.Sebelumnya, Pertamina dan PT Geo Sarana Guna menargetkan 27 Agustus 2007 lalu, distribusi elpiji sudah dilakukan, namun karena hal teknis pendistribusian diundur. Di Semarang tercatat lima kecamatan yang dipilih sebagai daerah percontohan konversi minyak tanah ke gas elpiji, yakni Kecamatan Semarang Barat, Tugu, Ngaliyan, Gajah Mungkur dan Kecamatan Semarang Utara. Jumlah tabung dan kompor yang dibagikan mencapai 50 ribu buah.
(try/ard)











































