Daya Saing Industri Garmen RI Belum Pupus
Jumat, 07 Sep 2007 14:17 WIB
Jakarta - Meski daya saing industri garmen Indonesia menurun akibat naiknya upah tenaga kerja, namun bukan berarti peluang industri nasional bersaing di pasar global hilang.Industri garmen Indonesia harus lebih berorientasi pada pembeli jika ingin kembali bersaing secara global. Demikian disampaikan pendiri International Garment Training Center (IGTC) Till Freyer disela-sela seminar tekstil, di Jakarta Convention Center, Jumat (7/9/2007).Menurutnya, industri garmen Indonesia sempat kompetitif karena biaya tenaga kerja yang murah. Namun saat ini tidak berlaku lagi karena banyak negara lain yang membayar tenaga kerjanya lebih murah."Industri garmen Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar global, para produsen garmen harus bisa memahami pasar dan akses ke para pembeli," ujarnya.Freyer juga mengatakan dukungan rantai pasok yang kuat, tenaga kerja yang kreatif, manajemen yang efektif, pengembangan kain dan finishing garment yang inovatif, serta pengetahuan pasar yang komperehensif merupakan faktor kunci untuk kembali meningkatkan daya saing."Industri garmen merupakan industri yang buyer driven. Karena itu produsen yang mampu menawarkan layanan berkualitas serta memenuhi standar pembeli tentu akan lebih mampu bersaing," tambahnya.
(ard/ir)










































