Heineken Mau PHK 6.000 Karyawan

Heineken Mau PHK 6.000 Karyawan

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 12 Feb 2026 08:45 WIB
Raksasa Bir Eropa Heineken Lawan Pajak Alkohol Vietnam
Heineken/Foto: DW (News)
Jakarta -

Perusahaan bir asal Belanda, Heineken akan memangkas hingga 6.000 pekerja secara global. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini mencakup hampir 7% dari total 87.000 karyawan global di produsen bir terbesar kedua di dunia itu.

Pada Rabu lalu, produsen bir tersebut telah menetapkan target pertumbuhan laba 2026, lebih rendah dibanding tahun lalu. Langkah ini menyusul lemahnya permintaan yang dihadapi perusahaan dan para pesaingnya.

Heineken menyatakan langkah ini sebagai upaya peningkatan produktivitas dan dapat membuka peluang penghematan biaya perusahaan. PHK ini akan dilakukan selama dua tahun ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami melakukan ini untuk memperkuat operasional kami agar mampu berinvestasi pada pertumbuhan," ujar Direktur Keuangan Heineken, Harold van den Broek dikutip dari Reuters, Kamis (12/2/2026).

ADVERTISEMENT

Sebagian PHK akan difokuskan di Eropa atau pasar non-prioritas yang memiliki prospek pertumbuhan rendah. Selain itu, pengurangan tenaga kerja ini juga merupakan hasil dari inisiatif yang telah diumumkan sebelumnya, yang menyasar jaringan pasokan, kantor pusat, dan unit bisnis regional Heineken.

Heineken juga tengah mencari CEO baru setelah pengunduran diri Dolf van den Brink yang mengejutkan pada Januari lalu. Kendati begitu, saham Heineken naik 3,5% pada pukul 11:47 GMT, dengan total kenaikan sekitar 7% sejak akhir 2025.

Pada saat yang sama, penjualan di seluruh sektor ini sedang melemah akibat kondisi keuangan konsumen yang tertekan dan faktor cuaca buruk baru-baru ini.

Selain Heineken, produsen bir Tiger dan Amstel berkomitmen memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi dengan tenaga kerja yang lebih sedikit. Langkah ini diambil guna menenangkan para investor yang merasa perusahaan telah tertinggal dalam hal efisiensi.

Pesaingnya, Carlsberg juga menyatakan akan melakukan PHK, sementara produsen bir dan minuman beralkohol lainnya turut memangkas biaya, menjual aset, dan memperlambat produksi setelah mencatatkan penjualan yang lesu selama bertahun-tahun.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads