Imbas kawasan Timur Tengah yang memanas berpotensi meningkatkan biaya distribusi nasional dan menekan harga barang di dalam negeri. Seperti diketahui Amerika Serikat dan Israel memulai perang dengan Iran beberapa hari lalu.
Konflik ini juga membuat Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Selat yang satu ini dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia serta 20-25% perdagangan LNG global, sehingga setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik. Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar US$ 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga US$ 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan.
Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35-40% dari total biaya operasi truk, maka kenaikan harga solar 10% dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5-4%.
Kemudian, jika harga solar meningkat 20%, ongkos truk berpotensi naik 7-8%. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30% dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12%.
Kenaikan Harga Barang
Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14% dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Kenaikan ongkos truk 7-8% berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5%.
Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10% dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8%, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.
Setijadi menegaskan struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi. Risiko terbesar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok.
Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik. Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin.
Setijadi menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi.
"Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar," ujar Setijadi.
Dari sisi industri, diperlukan efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, serta penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat.
(acd/acd)










































