Wall Street tertekan karena konflik yang melibatkan Iran memicu lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi. Hal ini membuat investor semakin khawatir terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga.
Mengutip CNN, Minggu (22/3/2026), indeks-indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sempat melemah karena investor mencoba menilai dampak konflik terhadap ekonomi global dan keuntungan perusahaan.
Perang di Timur Tengah telah membuat harga energi naik tajam. Kenaikan harga minyak ini dinilai bisa mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga bank sentral AS berpotensi mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suku bunga yang tinggi biasanya kurang menguntungkan bagi pasar saham karena biaya pinjaman perusahaan naik, konsumsi masyarakat bisa melambat, dan valuasi saham menjadi lebih tertekan.
"Awalnya investor mengira perang Iran akan singkat. Namun, seiring intensifikasi agresi tanpa adanya tanda-tanda berakhirnya konflik, penderitaan di Wall Street terus berlanjut, karena pemegang saham dan pemilik aset pendapatan tetap terpukul secara bersamaan." kata JosΓ© Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Baca juga: Kala Harga Emas Gagal Dirayakan saat Lebaran |
Ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung mengurangi risiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau memberikan imbal hasil lebih stabil. Selain itu, beberapa sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti transportasi dan industri, berpotensi terkena dampak lebih besar.
Tidak hanya di AS, pasar saham di negara lain juga mengalami penurunan. Indeks di Jerman, Jepang, dan pasar global lainnya ikut melemah sejak konflik meningkat, menandakan kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Di negara berkembang seperti India, gejolak geopolitik juga membuat saham sektor keuangan turun tajam karena kekhawatiran dampak makroekonomi dari lonjakan energi.
"Pasar saham tetap berada di wilayah negatif sepanjang tahun ini, dan telah mencapai titik terendah baru tahun 2026 minggu ini, yang menunjukkan bahwa pasar mungkin belum menemukan titik terendahnya dan masih dalam proses memilah dan memperhitungkan durasi konflik Timur Tengah dan prospek harga minyak," kata kepala investasi Kerux Financial, David Laut.
(eds/eds)










































